Kisah Sabar Berhaji Temani Ibu Yang Hanya bisa Bahasa Jawa
MADINAH – Perjalanan ibadah haji yang dijalani Sabar Munasir (35), jemaah asal Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, menjadi salah satu kisah inspiratif di musim haji 2026.
Di balik keberangkatannya ke Tanah Suci, tersimpan cerita tentang bakti kepada orang tua, perjuangan melunasi utang, serta tekad mendampingi sang ibu yang hanya mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Jawa.
Sabar berangkat menunaikan ibadah haji menggantikan ayahnya, Munasir (71), yang tidak dapat berangkat karena kondisi kesehatan tidak memenuhi syarat istitaah.
Kesempatan tersebut diperoleh melalui pelimpahan porsi haji yang sebelumnya dimiliki sang ayah.
Namun, keputusan menerima pelimpahan kursi haji itu bukan semata-mata karena kesempatan beribadah.
Sabar mengaku lebih terdorong oleh keinginannya untuk mendampingi sang ibu, Painah, selama menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci.
“Saya kasihan ibu kalau berangkat sendiri. Beliau hanya bisa bahasa Jawa. Akhirnya keluarga bermusyawarah dan saya yang menggantikan bapak,” ungkapnya, Sabtu (20/6/2026).
Keputusan tersebut diambil setelah melalui musyawarah keluarga. Dari empat bersaudara, Sabar dinilai sebagai sosok yang paling tepat untuk mendampingi ibunya karena memiliki pemahaman keagamaan yang cukup dibanding saudara lainnya.
Lahir dari keluarga sederhana, Sabar tumbuh dengan berbagai keterbatasan. Sang ibu sehari-hari berjualan daun pisang untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga.
Dari perjuangan ibunya itu, ia banyak belajar tentang kerja keras dan menghargai setiap peluang rezeki.
Meski hanya menamatkan pendidikan hingga sekolah dasar, Sabar tidak menyerah pada keadaan.
Ia pernah merantau ke Jakarta dan bekerja kepada seorang pengusaha yang banyak mengajarkan disiplin, ketekunan, serta nilai-nilai tirakat dalam menjalani kehidupan.
Kini, Sabar mengelola sebuah toko kelontong di wilayah Sambek, Wonosobo. Dengan memanfaatkan sistem pembayaran digital melalui QRIS, usahanya berkembang dan mampu menopang perekonomian keluarga.
Menurutnya, kesungguhan dalam melayani pelanggan menjadi salah satu prinsip yang selalu dipegang dalam menjalankan usaha.
“Saya selalu siap melayani pembeli kapan pun. Mau datang malam atau pagi, kalau soal rezeki jangan ditolak,” katanya.
Pengalaman masa kecil bersama ibunya turut membentuk pola pikir tersebut. Ia masih mengingat bagaimana sang ibu tetap berusaha memenuhi pesanan pelanggan meski harus bekerja hingga larut malam.
“Dulu ibu ada pesanan daun pisang jam 10 malam, jam 11 malam tetap dicari. Dari situ saya belajar bahwa rezeki harus dijemput, jangan ditolak,” tuturnya.
Perjalanan hidup Sabar juga diwarnai perjuangan besar dalam menyelesaikan utang usaha. Dalam dua tahun terakhir, ia fokus melunasi kewajiban finansial yang nilainya mencapai ratusan juta rupiah.
Meski demikian, ia mengaku tidak memiliki resep khusus atas keberhasilannya mengembangkan usaha dan keluar dari tekanan ekonomi tersebut.
Baginya, ada dua hal utama yang selalu menjadi pegangan hidup, yakni menghormati orang tua dan menjaga kepercayaan orang lain.
Ia meyakini bahwa doa orang tua memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibanding apa pun yang pernah ia cari selama hidupnya.
“Orang tua adalah tuhan hidup di dunia. Saya sudah banyak mendatangi orang pintar dan dukun, tapi tidak ada doa yang lebih hebat daripada doa orang tua,” ujarnya.
Selain itu, Sabar juga rutin menjalankan puasa sunah Senin dan Kamis selama 40 hari berturut-turut. Kebiasaan tersebut merupakan nasihat yang pernah diterimanya dari salah satu majikan saat merantau.
Menurut pengakuannya, setelah menjalani amalan tersebut, perkembangan usahanya mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Bahkan, ia beberapa kali memperoleh keuntungan yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.
“Saya sendiri heran. Rezeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Tapi saya yakin itu karena ikhtiar, doa orang tua, dan menjaga kepercayaan orang lain,” katanya.
Bagi Sabar, menunaikan ibadah haji merupakan cita-cita tertinggi seorang Muslim. Karena itu, di tengah kesibukan membangun usaha, ia selalu berusaha menyisihkan sebagian penghasilannya untuk kebutuhan ibadah.
“Sandang, pangan, papan harus terpenuhi. Tapi untuk haji juga harus disisihkan. Sejauh-jauh piknik, yang paling jauh dan paling istimewa ya piknik ke Tanah Suci baik haji atau umrah,” ujarnya.(*/Red/MCH-2026)

