Wisata Anyer

Pesan Presiden Prabowo: Produk Indonesia Harus Masuk Rantai Pasok Haji dan Umrah

PLN Banten HUT Bhayangkara

BAUBAU – Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk menjadikan penyelenggaraan haji dan umrah sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat serta perluasan pasar produk Indonesia.

Komitmen tersebut disampaikan Menteri saat mengunjungi salah satu rumah produksi dan manufaktur pengolahan ikan di Kota Baubau, Sulawesi Tenggara.

Kunjungan ini bertujuan menjajaki peluang produk perikanan dari Indonesia Timur untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jemaah haji dan umrah Indonesia di Arab Saudi.

Menteri menyampaikan bahwa Presiden Prabowo berpesan agar ekosistem haji dan umrah memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Besarnya kebutuhan penyelenggaraan haji dan umrah harus membuka ruang yang lebih luas bagi UMKM, nelayan, industri pengolahan, eksportir, dan pelaku usaha dalam negeri.

“Presiden Prabowo berpesan agar ekosistem haji dan umrah memberikan nilai tambah bagi ekosistem ekonomi nasional. Penyelenggaraan haji harus ikut menumbuhkan potensi ekonomi di tengah masyarakat. Produk-produk Indonesia harus mampu menjawab kebutuhan jemaah haji dan umrah,” kata Menteri.

Menurut Menteri, Indonesia memiliki sumber daya perikanan yang besar dan beragam. Potensi tersebut perlu dihubungkan secara langsung dengan kebutuhan konsumsi jemaah Indonesia di Arab Saudi.

Selama ini, kebutuhan makanan jemaah haji dan umrah menciptakan permintaan dalam jumlah besar. Peluang tersebut harus dimanfaatkan melalui penguatan produksi, standardisasi, sertifikasi, pengemasan, distribusi, dan pembukaan akses ekspor.

“Kita memiliki ikan dan berbagai produk olahan perikanan yang berkualitas. Kita ingin produk-produk tersebut masuk ke pasar Arab Saudi dan menjadi bagian dari rantai pasok konsumsi jemaah haji dan umrah Indonesia,” ujar Menteri.

Dalam peninjauan tersebut, Menteri melihat proses produksi, pengolahan, pengemasan, dan kesiapan produk perikanan untuk dipasarkan secara lebih luas.

Menteri juga berdialog dengan pengelola rumah produksi mengenai kapasitas produksi, keberlanjutan pasokan bahan baku, standar keamanan pangan, dan persyaratan ekspor.

Menteri menilai industri perikanan di Baubau dan kawasan Indonesia Timur memiliki peluang besar untuk berkembang. Kawasan ini memiliki sumber daya perikanan, tenaga kerja, serta pelaku usaha yang dapat dilibatkan dalam pengembangan ekosistem ekonomi haji dan umrah.

Pengembangan rantai pasok tersebut diharapkan menciptakan manfaat ekonomi bagi nelayan, pengolah ikan, UMKM, perusahaan logistik, tenaga kerja lokal, dan sektor pendukung lainnya.

“Kebutuhan jemaah kita jangan seluruhnya dipenuhi oleh produk dari luar Indonesia. Kita harus menyiapkan produk sendiri, memperkuat industrinya, kemudian memastikan produk tersebut memenuhi standar yang berlaku di Arab Saudi,” tegas Menteri.

Untuk mempercepat langkah tersebut, Menteri memerintahkan Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Prof. Dr. Jaenal Effendi, M.A., agar segera memfasilitasi pertemuan bisnis antara pelaku usaha Indonesia dan para importir di Arab Saudi.

Business matching akan diarahkan untuk mempertemukan produsen, eksportir, perusahaan katering, distributor, dan importir. Pertemuan tersebut akan membahas kebutuhan pasar, jenis produk, kapasitas produksi, standar mutu, harga, pengemasan, distribusi, dan skema kerja sama ekspor.

“Kita tidak ingin potensi ini berhenti pada kunjungan dan diskusi. Harus ada tindak lanjut yang konkret. Saya meminta Dirjen Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah segera mempertemukan pengusaha Indonesia dengan importir dan mitra usaha di Arab Saudi,” kata Menteri.

Direktur Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah, Jaenal Effendi, menyatakan akan segera menindaklanjuti arahan Menteri melalui pemetaan produk unggulan dan pelaku usaha yang siap memasuki pasar ekspor.

Pemetaan akan mencakup industri perikanan, produk makanan olahan, kebutuhan konsumsi jemaah, perlengkapan ibadah, logistik, dan sektor lain yang berkaitan dengan penyelenggaraan haji dan umrah.

“Kami akan menyiapkan business matching antara pengusaha Indonesia dengan importir serta pelaku usaha di Arab Saudi. Targetnya adalah membentuk kerja sama business to business yang konkret sehingga produk Indonesia dapat segera masuk dalam rantai pasok haji dan umrah,” ujar Jaenal.

Jaenal juga menyampaikan rencana penyelenggaraan ekspo ekosistem ekonomi haji dan umrah di kawasan Indonesia Timur. Sulawesi Selatan menjadi salah satu lokasi yang dipertimbangkan karena memiliki akses transportasi dan jaringan perdagangan yang mendukung keterlibatan pelaku usaha dari berbagai provinsi.

Ekspo tersebut akan mengundang UMKM, industri perikanan, produsen makanan dan minuman, eksportir, perusahaan logistik, lembaga sertifikasi, lembaga pembiayaan, serta industri pendukung lainnya.

Importir, distributor, perusahaan katering, dan mitra bisnis dari Arab Saudi juga akan diundang untuk melihat langsung produk-produk unggulan Indonesia Timur.

“Ekspo ini akan menjadi ruang pertemuan antara produsen dan pembeli. Pelaku usaha dapat menampilkan produknya, mengetahui standar yang dipersyaratkan, serta membangun kerja sama langsung dengan calon mitra dari Arab Saudi,” jelas Jaenal.

Melalui ekspo tersebut, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekosistem Ekonomi Haji dan Umrah menargetkan terbentuknya kesepakatan bisnis, kontrak perdagangan, dan kemitraan yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.

Kementerian Haji dan Umrah juga akan berkoordinasi dengan kementerian, pemerintah daerah, lembaga sertifikasi, perbankan, dan pelaku logistik untuk membantu kesiapan produk Indonesia memasuki pasar Arab Saudi.

Kunjungan Menteri ke Baubau menjadi bagian dari upaya pemerintah menghubungkan potensi ekonomi daerah dengan kebutuhan penyelenggaraan haji dan umrah. Langkah tersebut sekaligus menegaskan bahwa belanja haji dan umrah harus menghasilkan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Indonesia.

“Penyelenggaraan haji dan umrah memiliki pasar yang besar. Arahan Presiden sangat jelas. Pasar tersebut harus memberi manfaat kepada bangsa sendiri, menggerakkan ekonomi masyarakat, memperluas ekspor, dan memperkuat posisi produk Indonesia dalam rantai pasok haji dan umrah,” tutup Menteri. ***

PT PCM HUT Bhayangkara
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien