Tarif Jasa Dorong Kursi Roda di Masjidil Haram Bisa Melambung Hingga 600 Riyal di Musim Haji 2026

MAKKAH – Pada musim haji kepadatan jemaah di Masjidil Haram tentu tak terhindarkan lagi. Ratusan ribu umat muslim terus berdatangan setiap harinya, sehingga menyebabkan ruang gerak jemaah di area Masjidil Haram semakin terbatas.
Salah satu faktor itu lah yang diprediksi menjadi penyebab melambungnya harga berbagai layanan di kawasan Masjidil Haram, salah satunya melambungnya harga layanan jasa pendorongan kursi roda.
Jemaah lansia dan disabilitas akan lebih memudahkan ibadah jika dibantu jasa dorong kursi roda.
Namun jemaah Indonesia diimbau menyiapkan anggaran lebih ekstra, mengingat harga layanan tersebut di lapangan kerap melambung tanpa menengok lagi standar harga biasanya.
Harga jasa dorong kursi roda bisa mencapai angka 600 Riyal atau setara Rp 2,5 juta.
Setiap saat, umat Islam dari berbagai penjuru dunia terus memadati area tawaf dan sa’i selama musim haji.
Tarif normal jasa dorong kursi roda awalnya berkisar 250 Riyal, namun diprediksi bakal terus merangkak naik karena semakin tingginya angka tamu Allah yang mengalami kelelahan, termasuk lansia dan disabilitas.
Kenaikan eksponensial ini paling terasa bagi jemaah yang mencoba menyewa jasa pendorong secara mandiri dan mendadak di dalam area masjid.
Jika tidak didampingi petugas yang memahami, jemaah haji akan ‘ditembak’ dengan harga tinggi oleh pendorong resmi yang enggan melakukan tawar-menawar.

“Semakin dekat hajian sampai 500-600 Riyal, dan fixed mereka itu kadang-kadang tidak mau lagi ditawar,” ungkap PPIH Kepala Seksi PKP2JH, Lansia dan Disabilitas Daker Makkah, Mayor CKM. dr. Ridwan Siswanto, Sabtu (2/5/2026).
Untuk mengatur harga layanan masih di batas rasional, petugas menerapkan program Kartu Kendali kepada jemaah, yang dikoordinir dari terminal kedatangan.
Melalui skema ini, tarif jasa pendorong resmi masih bisa dinegosiasikan oleh petugas di angka 250 hingga 350 Riyal sebelum jemaah berangkat beribadah.
Menariknya, harga kesepakatan tersebut rupanya sangat dipengaruhi oleh tingkat kesulitan kontur jalan di masing-masing terminal keberangkatan.
Tarif di Terminal Jabal Ka’bah cenderung lebih mahal sekitar 50 Riyal karena medannya yang menanjak dan jauh.
“Kalau dari Terminal Jabal Ka’bah agak lebih berat lah dorong jemaahnya, sedangkan Ajyad lebih murah karena konturnya datar,” jelas dr. Ridwan.
Ketegasan dalam bertransaksi menjadi syarat mutlak bagi pendamping jemaah lansia saat menyerahkan upah kepada pendorong.
Pembayaran wajib dilakukan menggunakan uang pas dalam mata uang Riyal, karena seluruh pendorong akan menolak pembayaran dalam bentuk Rupiah.
Membekali diri dengan informasi tarif terkini adalah bentuk mitigasi terbaik agar jemaah tidak kehabisan uang saku di awal waktu.
Pemerintah terus berupaya menjembatani proses negosiasi agar tamu Allah tidak menjadi korban eksploitasi finansial jelang Wukuf di Arafah. (*/Red)


