Beach Clean Up Salaka, KEHATI dan Nestlé 2026 Ubah Sampah Jadi Bernilai
PANDEGLANG – Yayasan Lestari Alam Kita (Salaka) bersama Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia (KEHATI) dan PT Nestlé Indonesia menggelar aksi bersih pantai di kawasan Pantai Legon, Desa Sumberjaya, Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan bertajuk Beach Clean Up tersebut tidak hanya difokuskan pada pembersihan sampah di wilayah pesisir, tetapi juga mendorong pemanfaatan sampah plastik menjadi produk bernilai ekonomi.
Aksi lingkungan itu melibatkan berbagai unsur masyarakat mulai dari pelajar, komunitas peduli lingkungan, akademisi, hingga pemerintah daerah yang bersama-sama membersihkan sampah plastik di area pantai.
Direktur Yayasan Salaka, Hendrawan Syafrie mengatakan, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian ekosistem laut dan pesisir.
Menurutnya, kawasan pantai dan laut memiliki peran penting bagi kehidupan masyarakat sehingga harus dijaga secara bersama-sama.
“Pantai dan laut bukan hanya sumber kehidupan masyarakat pesisir, tetapi juga aset lingkungan yang harus dijaga bersama,” kata Hendrawan, Rabu (13/5/2026).
Usai pelaksanaan aksi bersih pantai, peserta juga mendapatkan pelatihan pengelolaan sampah plastik melalui proses transfer teknologi tepat guna.
Sampah plastik yang sebelumnya tidak memiliki nilai ekonomi dipilah dan diolah menjadi berbagai produk yang lebih bermanfaat, seperti paving blok hingga jam dinding.
Manager Komunikasi dan Kerja Sama Yayasan KEHATI, Elvira P. Wongsosudiro menilai kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting dalam menciptakan pengelolaan lingkungan pesisir yang berkelanjutan.
Sementara itu, Sustainability Manager PT Nestlé Indonesia, Helena Ariesty mengatakan kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat program pelestarian lingkungan berbasis masyarakat.
Ia menjelaskan pengelolaan sampah dari sumbernya dapat menjadi bagian dari pengembangan ekonomi sirkular di wilayah pesisir.
Kegiatan ini turut melibatkan Komunitas Rhino Bahari, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Dinas Perikanan Kabupaten Pandeglang, Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pandeglang, Pemerintah Kecamatan Sumur, Pemerintah Desa Sumberjaya, Babinkamtibmas Desa Sumberjaya, Brigslapa SMA 16 Pandeglang, serta SD Negeri Sumberjaya 01.
Camat Sumur, Aang Sumarna menyampaikan persoalan sampah plastik masih menjadi tantangan besar yang dihadapi masyarakat di wilayahnya.
“Kesadaran masyarakat untuk memilah sampah perlu terus ditingkatkan melalui edukasi dan transfer pengetahuan mengenai pengelolaan sampah,” ujarnya dalam kesempatan yang sama.
Sekretaris Dinas Perikanan Kabupaten Pandeglang, Onah, STP, MM mengatakan persoalan sampah pesisir menjadi tantangan serius karena berdampak terhadap lingkungan laut dan aktivitas perikanan masyarakat.
Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik juga dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat pesisir.
“Sampah yang dipilah juga bisa diolah menjadi produk bernilai tambah yang mendukung ekonomi masyarakat, sehingga masyarakat tidak boleh sungkan dan malu memilah sampah mulai dari sumbernya” ujarnya.
Dosen Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Adi Susanto menilai keterlibatan berbagai pihak sangat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah plastik di lingkungan pesisir.
Ia mengatakan upaya penyadartahuan kepada masyarakat tidak dapat dilakukan secara sendiri, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai elemen.
“Keterlibatan berbagai pihak dalam upaya penyadartahuan masyarakat untuk mengelola sampah plastik di lingkungannya harus dilakukan secara kolaboratif sehingga dampak dan perubahan yang terjadi akan dirasakan secara luas dengan hadirnya lingkungan pesisir yang bersih, sehat dan indah” ujarnya.
Ketua Komunitas Rhino Bahari, Syifa Alfiah mengatakan kegiatan tersebut bukan hanya sebatas pelatihan pengolahan sampah, melainkan juga menumbuhkan harapan bagi masyarakat pesisir untuk menjaga lingkungan secara bersama-sama.
Ia menyebut perubahan besar dapat dimulai dari kebiasaan kecil masyarakat dalam memilah sampah dari rumah masing-masing.
“Kami percaya perubahan besar dimulai dari kesadaran kecil di rumah untuk memilah sampah, lalu terhubung menjadi gerakan kolaborasi antara masyarakat, pemuda, pemerintah desa, serta para pihak yang peduli terhadap lingkungan,” katanya.
Syifa juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung kegiatan tersebut sehingga masyarakat pesisir dapat terlibat langsung dalam upaya pengelolaan sampah.
“Terima kasih kepada Yayasan Salaka, Yayasan KEHATI dan PT Nestlé Indonesia yang telah memberi ruang bagi kami untuk berkiprah dan membuktikan bahwa permasalahan sampah pun dapat diubah menjadi peluang, semangat, dan masa depan yang lebih baik bagi desa pesisir kami,” lanjutnya.(*/ARAS)

