PII, S3 dan Pokja Relawan Pandeglang Gelar Trauma Healing

Gerindra Nizar

PANDEGLANG – Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PII) Banten, Sedekah Seribu Sehari ( S3 ) Nasional, dan Pokja Relawan Pandeglang memberikan terapi trauma healing kepada ratusan anak korban bencana tsunami pesisir selat sunda. Trauma healing kali ini digelar di dua lokasi sekaligus, yaitu Kp.Cipanon Desa Tanjung Jaya dan Kp. Sinar Laut Desa Panimbang Kecamatan Panimbang Kabupaten Pandeglang, Minggu(6/1/2019).

“PII sebagai organisasi yang konsen pada pendidikan, tentu menjadikan pelajar atau anak-anak sebagai fokus utama dalam recovery pasca bencana. Kita juga membuka posko pendidikan di Desa Teluk Kecamatan Labuan, selain itu bersama para relawan lain kami berupaya untuk terus memulihkan kondisi anak-anak di sejumlah titik lokasi terdampak bencana lainnya,” ucap Hendrik, Ketua Umum PW PII Banten.

Di tempat yang sama, menurut Ummu Hamam selaku kordinator S3 Pandeglang, kegiatan trauma healing penting dilakukan mengingat dampak yang ditimbulkan pasca kejadian bencana sangat besar bagi pertumbuhan terutama psikologis dan sosio emosional pada anak-anak.

Fraksi serang

“Melalui kegiatan ini, diharapkan dapat memotivasi anak-anak untuk tidak takut dan tetap waspada ketika bencana datang dan harus siap siaga ketika bencana itu tiba,” ucapnya.

Selain kegiatan trauma healing, para relawan tersebut sekaligus juga memberikan bantuan berupa snack, biskuit, makanan siap saji, minuman susu uht, hadiah mainan, boneka-boneka serta paket alat sekolah untuk ratusan anak-anak penyintas yang langsung diserahkan kepada anak-anak penyintas bencana di dua lokasi pesisir Kecamatan Panimbang.

Fraksi

“Selain banyak menimbulkan korban anak-anak yang trauma, warga yang meninggal pun mencapai ratusan orang dan ribuan bangunan rusak,” tambahnya.

Sementara itu, menurut Aank Ahmed Ketua Pokja Relawan Pandeglang, tidak semua orang yang mengalami bencana pasti trauma. Perubahan perilaku korban dan penyintas (mereka yang selamat dari) bencana bisa jadi adalah reaksi yang normal dalam situasi yang tidak normal.

“Dalam menghadapi perubahan mendadak situasi yang menjadi tidak normal, adalah hal yang wajar ketika seseorang merasa kaget (shock), tertekan (stress), ataupun bingung. Dan adalah hal yang wajar pula ketika emosinya tampil dalam bentuk perubahan perilaku,” ujarnya.

“Apakah semua orang yang mengalami bencana pasti membutuhkan trauma healing? Belum tentu. Trauma healing atau pemulihan trauma adalah konseling dan terapi bagi mereka yang didiagnosa mengalami trauma. Baik diagnosa maupun terapi ini diberikan oleh para profesional yang kompeten seperti psikolog atau psikiater, tak semua penyintas bencana serta merta pasti membutuhkan bantuan profesional, karena pada dasarnya setiap individu memiliki ketangguhan pribadi yang berbeda-beda kadarnya, untuk membantu mereka bangkit,” tuturnya.

Namun demikian, sering kali dalam perubahan situasi yang besar, termasuk pada bencana alam, penyintas membutuhkan pendampingan untuk memahami dan beradaptasi dengan perubahan situasi.

“Di sinilah kita harus hadir untuk mereka penyintas bencana memberikan mereka dukungan psikologis awal,” pungkasnya.(*/Munta’al)

Gerindra kuswandi