Akademisi Nilai Mesin Parpol Pendukung Rano-Embay Tidak Berjalan Maksimal

Gerindra Nizar

PANDEGLANG – Ironis, unggul di 6 kabupaten/kota dan hanya kalah di 2 kota/kabupaten, sehingga membuat pasangan Rano – Embay harus berada di bawah pasangan nomor urut 1 Wahidin Halim – Andika Hazrumi dengan selisih persentase perolehan suara hanya satu persen lebih. Hal ini tentu merupakan pukulan telak bagi pasangan yang didukung oleh Partai Penguasa saat ini.

Fraksi

Akademisi Universitas Mathla’ul Anwar Banten, Ali Nurdin juga berkomentar terkait hasil pemungutan suara Pilgub Banten 2017, dimana kekalahan yang dialami pasangan nomor urut 2 Rano Karno – Embay Mulya Syarief menurut hasil real count KPU, menurutnya adalah sesuatu yang ironis.

Sebagai pengamat, Ali Nurdin berpendapat ada yang salah dengan tim pemenangan di kubu Rano – Embay. Kekalahan telak perolehan suara di Kota Tangerang mengisyaratkan mesin politik Rano tidak berjalan maksimal.

“Sebagai incumbent RK punya kans yang tinggi untuk dipilih masyarakat, Kota Tangerang harusnya jadi perhatian timnya Rano. Ironis saja mereka harus kalah dari 2 daerag sementara mereka menang di 6 kabupaten/kota lainnya,” ujar Ali Nurdin, saat ditemui, Minggu (19/2).

Dikatakan CEO Strategi Consulting Jakarta ini, kekalahan Rano – Embay di Kota Tangerang juga merupakan indikasi tidak berjalannya mesin politik dari partai.

“Kalau mesin partai bergerak saya yakin perolehan suara WH sama dengan di kota/kabupaten lainnya,” imbuhnya.

Diketahui, WH – Andika berhasil unggul selisih 33,8 persen dari pasangan Rano – Embay di Kota Tangerang, sementara di Kabupaten Serang Rano – Embay juga kalah dengan selisih 10,6 persen. (*)

Gerindra kuswandi