Penderita ISPA di Bojonegara Serang Capai Ribuan Warga, Didominasi Anak-anak
SERANG – UPT Puskesmas Bojonegara, Kabupaten Serang, mencatat sebanyak sekitar 2.000 warga menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama periode Januari hingga Mei 2026.
Jumlah tersebut berasal dari sekitar 14 ribu kunjungan pasien yang berobat ke puskesmas, dengan kasus terbanyak dialami anak-anak.
Kepala UPT Puskesmas Bojonegara, drg. Yatni, mengatakan ISPA menjadi salah satu penyakit yang paling banyak ditemukan di wilayah kerjanya dan menempati urutan kedua dalam daftar 10 penyakit terbanyak.
“Januari sampai bulan Mei, dari sekitar 14 ribu warga yang berobat, sekitar 2 ribu di antaranya menderita ISPA. Kebanyakan anak-anak,” kata Yatni saat ditemui di Puskemas Bojonegara, Jumat (26/6/2026).
ISPA merupakan infeksi atau peradangan pada saluran pernapasan, mulai dari hidung hingga paru-paru, yang mudah menular.
Gejalanya meliputi batuk, pilek, demam, nyeri tenggorokan, hingga badan terasa lemas dengan masa sakit umumnya berlangsung selama satu hingga dua minggu.
“ISPA sendiri masuk dalam urutan kedua dalam data 10 besar penyakit di Puskesmas Bojonegara,” ujarnya.
Menurut Yatni, penyebab ISPA dapat dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya infeksi virus.
Namun, untuk setiap kasus diperlukan pemeriksaan lebih lanjut sehingga penyebab pastinya tidak selalu dapat dipastikan.
“ISPA bisa jadi disebabkan oleh virus dan lain sebagainya, dan kita belum bisa memastikan penyebab pastinya,” katanya.
Sebagai upaya pencegahan, Puskesmas Bojonegara terus menggencarkan sosialisasi dan edukasi kesehatan melalui kegiatan Posyandu.
Kegiatan tersebut menyasar seluruh kelompok usia, mulai dari balita, dewasa hingga lanjut usia, yang disertai skrining kesehatan.
Apabila dalam proses skrining ditemukan warga yang mengalami gejala ISPA, petugas akan memberikan edukasi, penanganan awal, hingga merujuk pasien ke Puskesmas apabila diperlukan.
Selain ISPA, Yatni menyebut hipertensi masih menjadi penyakit dengan jumlah kasus tertinggi di wilayah kerjanya. Selanjutnya disusul ISPA, dispepsia atau sakit maag, serta diabetes melitus.
“Kalau dulu hipertensi dan diabetes tidak sebanyak sekarang, sekarang jumlah penderitanya semakin meningkat,” katanya.***

