Wisata Anyer

Produksi Beras Banten Terancam Turun, Gerakan Tanam Metode PM AAS Berpotensi Tingkatkan Pendapatan

SERANG – Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Kementerian Pertanian dan sejumlah pemangku kepentingan memperkuat ketahanan pangan di Provinsi Banten melalui gerakan tanam padi serempak di Kasemen, Kota Serang, Selasa (15/9/2026).

Sebanyak 500 hektare lahan dicanangkan untuk gerakan tanam menggunakan metode Pertanian Modern, Advanced Agricultural System (PM AAS).

Langkah tersebut tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan produksi beras, tetapi juga menjadi strategi menjaga stabilitas harga pangan dan mengendalikan inflasi di Banten.

Kepala Perwakilan BI Provinsi Banten, Sofwan Kurnia, mengatakan peningkatan produksi pangan menjadi salah satu kunci dalam menjaga pasokan dan stabilitas harga.

Menurutnya, semakin besar produksi pangan dari daerah sendiri, ketergantungan terhadap pasokan dari daerah lain dapat ditekan.

“Berarti suplainya makin meningkat. Mudah-mudahan tidak hanya surplus, tetapi bisa lebih meningkat dan lebih banyak lagi untuk masuk ke wilayah lain,” ujar Sofwan.

Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjaga pasokan komoditas pangan yang menjadi salah satu faktor pembentuk inflasi.

“Jadi kita semuanya harus bersinergi untuk memastikan pasokan komoditas yang menjadi faktor meningkatnya inflasi, kenaikan harga-harga itu bisa kita kendalikan,” katanya.

Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Banten Kementerian Pertanian, Andry Poloz, mengungkapkan Banten menghadapi tantangan dalam menjaga produksi beras.

Berdasarkan data pertanian, kata dia, terdapat penurunan luas panen, produktivitas, hingga produksi beras dibandingkan periode sebelumnya.

Padahal, Banten sebelumnya berada di posisi delapan besar provinsi dengan produksi beras secara nasional.

“Kalau ini tidak kita jaga, kita akan mengalami penurunan. Nanti kita akan disalip oleh provinsi lain,” ujar Andry.

Oleh karena itu, September dinilai menjadi momentum penting untuk mengejar luas tambah tanam (LTT) padi. Andry menyebut target LTT padi Banten pada September mencapai sekitar 44.000 hektare.

“Dengan kendala kekeringan seperti ini kita harus berupaya keras untuk bisa memenuhi target LTT padi kita,” katanya.

Salah satu upaya yang didorong adalah penerapan metode PMAS yang dinilai mampu meningkatkan produktivitas padi.

Andry menyebut produktivitas yang sebelumnya berada di kisaran 5 ton per hektare berpotensi meningkat hingga sekitar 10 ton per hektare atau lebih.

Bahkan, penerapan metode tersebut di Kota Serang sebelumnya telah menghasilkan produktivitas mencapai 12,88 ton GKP per hektare.

Untuk gerakan tanam 500 hektare, apabila rata-rata produktivitas mencapai 10 ton per hektare, potensi produksinya sekitar 5.000 ton gabah kering panen (GKP), atau sekitar 2.500 ton setelah dikonversi menjadi beras.

Andry menilai tambahan produksi tersebut penting untuk memperkuat pasokan beras Banten dalam beberapa bulan ke depan.

Sebab, ketika pasokan beras menurun, kebutuhan harus dipenuhi dari daerah lain yang berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan berdampak terhadap harga.

“Kalau stok berasnya nanti menurun, korelasinya terhadap inflasi pasti ada. Ketersediaan beras berkurang berarti harga akan mulai naik,” ujarnya.

Di tempat yang sama, Wakil Walikota Serang Nur Agis Aulia mengatakan Pemerintah Kota Serang siap mendukung gerakan tersebut.

Menurutnya, Kota Serang memiliki potensi lahan yang dapat dioptimalkan untuk memperkuat produksi pangan.

“Kita punya aset Pemkot sendiri, hampir 400 hektare dalam bentuk sawah dan tambak. Ini juga bisa kita optimalkan,” kata Agis.

Ia menegaskan pengendalian inflasi membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. “Memang kata kuncinya untuk pengendalian inflasi itu kolaborasi,” ujarnya.***

Disdukcapil Sekda
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien