Hebat, Bengkel Ketapel Kecil dari Kota Tangerang ini Berhasil Capai Pasar Internasional

TANGERANG – Ketapel atau sling shots sejauh ini dikenal hanya sebagai permainan tradisional yang tidak mempunyai potensi bisnis yang matang.

Namun, jangan salah, di mata dan di tangan kreatif NFZ Sling Shots Indonesia, ketapel disulap menjadi produk unik yang menjadi sumber pundi-pundi cuan bernilai puluhan juta rupiah.

Owner NFZ Sling Shots Indonesia, Ahmad Andi Jazuli menuturkan, awalnya ia pun mempunyai pikiran yang sama dengan masyarakat pada umumnya dalam memandang ketapel.

Namun, rutinitas ia beraktivitas menggeluti ketapel, menuntunnya bertemu dengan pasar bisnis yang belum banyak dijamah orang tersebut. Setelahnya, sejarah yang berbicara.

“Dulu sangat sepele ya. Berawal dari hobi suka membeli katapel, pada tahun 2019 mulai coba-coba merintis membuat ketapel dengan hanya berbahan dasar kayu. Setelahnya, perlahan kita upgrade bahan menggunakan meicarta (lapisan kain dengan kekuatan lebih kuat dari besi disertai keunggulan warna yang dimiliki), selanjutnya, keisengan tersebut berbuah keberuntungan hingga ke pasar internasional sampai sekarang,” tuturnya menjelaskan awal mula memulai bisnis ketapel tersebut.

Ia melanjutkan, produk yang dihasilkan dari bengkel kecil di pedalaman kampung di Ciledug, Kota Tangerang, tersebut, berbeda secara kualitas dengan produk-produk yang beredar di pasaran.

Setelah mempelajarinya dengan getol, ia kini mampu menciptakan produk yang tidak hanya diminati pasar lokal, bahkan berhasil mencapai pasar internasional.

Lewatnya, produk-produk ketapel tersebut terjual sampai ke Malaysia, Inggris, Prancis, Amerika Serikat, dan negera-negara maju lainnya.

Advertorial

Advertorial

“Untuk proses produksinya, dari bahan kain yang sudah dipress (meicarta) seperti ini, lalu dipotong sesuai pola, lalu dirapihkan menggunakan mesin yang sudah disediakan, lalu ditumpuk sampai dengan beberapa bagian untuk memastikan ketapel yang dihasilkan mempunyai kekuatan yang terjamin, lalu dibor, dibentuk lagi menggunakan gerinda, lalu terakhir atau finishingnya menggunakan tangan. Proses yang nyaris semuanya menggunakan tangan inilah yang membuat harganya mahal,” lanjutnya menceritakan singkat proses produksi pembuatan ketapel.

Saat ini, bersama dengan dua pekerja lepasan yang membantunya, ia hanya berfokus pada produk berkualitas tinggi yang dihasilkan dengan sistem hand made atau buatan tangan secara penuh.

Oleh karenanya, ia tidak bisa memproduksi dalam skala yang besar. Tercatat, ia hanya mampu memproduksi maksimal 30 ketapel dalam sebulan atau sekitar 1 ketapel dalam sehari.

“Kita biasanya mengerjakan satu produk bisa memakan waktu 2-5 hari, tergantung kerumitan pesanan. Terkait harganya, dimulai pada harga 350 ribu sampai 4 juta. Kalau omset total, alhamdulillah, sebulan bisa mencapai dua digit (puluhan juta),” jelasnya.

Meski begitu, kesuksesan bisnis produksi ketapel yang di jalannya, bahkan sampai mencapai pasar internasional tersebut, belum dibarengi dengan tingginya popularitas ketapel di dalam negeri.

Harapannya, lewat perkembangan media sosial saat ini, dapat membantu mendongkrak popularitas ketapel yang saat ini mempunyai jaringan komunitas secara global.

Serta, lewatnya, ia berharap dapat terus mengembangkan bisnisnya untuk semakin besar dan menghasilkan untung yang kian berlipat ganda.

“Saat ini, semua orang belum tahu tentang peluang ketapel. Semoga kedepannya dunia ketapel semakin populer, bisnisnya sendiri semakin berkembang, serta pasarnya terus meluas ke depannya,” pungkasnya. (*/Red)