Demi Mikul Harta Benda, Ilmu Dipendem Alam Dirusak

CILEGON EKONOMI LEBAK OPINI PANDEGLANG PEMERINTAHAN PENDIDIKAN SERANG TANGERANG

*) Oleh: Ilung (Sang Revolusioner)

PERADABAN modern saat ini mungkin sudah banyak membuat orang lupa dengan Mikul atau meletakkan satu beban dan diletakkan di bagian pundak. Selain sudah banyak profesi pekerjaan Mikul yang sudah ditinggalkan atau tergantikan dengan profesi baru yang lebih memanjakan orang.

Mungkin karena pekerjaan mikul secara harfiah sangat melelahkan, akhirnya manusia modern yang bangga dengan capaian teknologi jadinya lebih gemar mikul harta benda atau materialisme. Dan yang menjadi beban di pundak manusia zaman now bisa jadi adalah tekanan-tekanan materi keduniaan, tuntutan untuk mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya, atau jabatan setinggi-tingginya.

Dari tekanan tersebut jutaan manusia berprilaku keseharian mencapai target-targetnya hingga tidak menyadari iklim atau atmosfer yang tercipta adalah peradaban baru, lahirnya manusia “modern” dengan pandangan hidup bahwa kemuliaan dari hidup adalah pengumpulan harta benda melimpah dan jabatan tinggi.

Orang bisa membeli status kemuliaan hidup dengan uang, orang bisa selamat dari hukuman dengan uang. Orang bisa menjabat suatu posisi penting di struktural pemerintahan dan lembaga-lembaga dengan uang. Kebiasaan yang bernuansa kesadaran, tolok ukurnya adalah uang. Peradaban persaingan agar dapat materi menjadi gaya hidup baru. Kelompok, organisasi, partai saling bersaing untuk mewujudkan keadilan tahayul, kebaikan tahayul. Saling menjegal, saling menjatuhkan, saling melaporkan adalah akibat baru dari zaman jahiliyah baru.

Guru saya Emha Ainun Nadjib sering mengatakan bahwa, “Orang sekarang lebih memilih telanjang asalkan perut kenyang daripada berani lapar asal tidak telanjang”. Bahwa kaya lebih penting dari martabat hidup, tidak masalah mencuri hak rakyat asal naik mobil mewah, tidak masalah menyuap asal mendapat jabatan istimewa, tak apa mengemis asalkan bisa necis dan tetap eksis. Peradaban dimana meletakkan harta benda di pundak telah dihadapkan di sekeliling kita.

**
Dikutip dari Caknun.com, Banyak hadits nabi yang menjelaskan tentang ancaman-ancaman orang yang memendam atau menyembunyikan ilmu kepada orang yang membutuhkan. Dari dasar pemahaman “A l-‘ilmu Nurun “.

Bahwa ilmu adalah cahaya yang menerangi kepada orang yang dalam kegelapan agar tercerahi dan mendapat satu pencerahan dikemudian hari selanjutnya. Satu pentadabburan dari hadits nabi tentang ancaman adalah ada dua unsur yakni orang yang butuh ilmu dan punya ilmu. Dan ketika yang butuh tidak diberi sebuah pencerahan maka yang terjadi adalah ancaman bagi yang mempunyai ilmu tersebut.

Di masa sekarang sebenarnya kalau hanya sekadar mempunyai ilmu untuk memahami sesuatu, boleh dikatakan manusia sekarang sudah banyak hal yang diketahui, terlepas dari pengamalannya.

Jadi permasalahan untuk memendam atau mengubur ilmu sedikit minor. Tetapi lahir masalah baru adalah mendhem ilmu atau mabuk ilmu artinya ketidaksadaran bagi penyandang ilmu memahami hakikat ilmu sebagai perangkat untuk mencahayai. Lahirnya perdebatan untuk adu argumen, perang pendapat atas ilmu-ilmunya bukan lagi untuk menambah ilmu bagi yang membutuhkan tetapi atas dasar kemenangan dan kepentingan.

**
Melihat nuansa dan pusaran arus paradigma peradaban yang demikian, saya coba ambil jarak untuk melihat persoalan dengan jarak pandang agar mendapat presisi yang tepat. Maka seharian Minggu (1/4/2018) kemarin, saya uzlah untuk menyendiri di pulau yang tidak berpenghuni yakni Pulo Kali. Disini saya ingin menyendiri, sejenak menghindar dari hiruk pikuk dan hingar bingarnya serta glamournya kehidupan.

Akan tetapi, lautan yang menjadi jarak pulau dengan daratan pulau Jawa yang hanya ratusan meter saja itu, tetap tak mampu kuraih ketenangan. Suara bising dari dok perbaikan kapal serta kepulan debu di atas gunung-gunung yang sedang dieksploitasi dan mulai tampak kroak disana-sini. Yang tak lain merupakan bagian keserakahan manusia yang sedang mikul harta benda mengubur ilmu.

Dan ketika sedikit menelusuri, gunung-gunung yang malang itu sedang diteteli untuk diambil batunya dan jual ke pulau Kalimantan dan pulau-pulau lainnya dengan kapal tongkang. Sementara tongkang-tongkang yang berlabuh di dermaga hasil reklamasi itu juga datang dari Kalimantan dan Sumatera mengirim batubara untuk pasokan bahan bakar pabrik-pabrik di kawasan Serang dan Cilegon.

Entah sampai kapan gunung-gunung itu akan terus dieksploitasi, sedangkan salah satu warga mengatakan tak berdaya dan menyerahkan itu kepada pihak pemerintah.

***
Dan bagaimanakah langkah kita untuk menyikapi persoalan “Mikul Bondo Mendhem Ilmu” bagi kita agar tidak ikut terjerumus di pusarannya dan bagaimana langkah kita agar bisa menjauh dari pusaran-pusaran peradaban Jahiliyah modern agar anak anak cucu kita terselamatkan. (*)

*) Penulis adalah Jurnalis Fakta Banten Online

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *