Harga Beras Naik, TTI di Lebak Jadi Penjual Beras Pribadi

LEBAK

LEBAK – Fungsi dan manfaat dari Toko Tani Indonesia (TTI) di wilayah Lebak Selatan menuai tanda tanya di kalangan aktivis, pasalnya keberadaan TTI yang digembar-gemborkan pemerintah pusat dapat memotong rantai distribusi yang panjang dan menekan harga pangan cenderung pasif.

Diketahui pada tahun 2016, sejumlah TTI di Lebak Selatan diproyeksikan menggenjot produk unggulan beras dengan harga standar, namun keberadaan beberapa toko tani mulai sepi.

Seperti pantauan faktabanten.co.id di Kecamatan Bayah, Kecamatan Malingping dan Wanalasam, toko tani ini terkesan mati suri, apalagi di kala harga beras melambung beberapa waktu lalu.

Koordinator LSM Benteng Aliansi Rakyat (Bentar) Lebak Selatan, Ena Suharna menilai, keberadaan Toko Tani Indonesia (TTI) di Lebak Selatan, seakan tak ada efek positif, keberadaan TTI dirasa perlu mendapat pembenahan dan revitalisasi.

Tidak adanya kerjasama dan kekompakan dalam kelompok TTI ini mengakibatkan tak jarang TTI yang berganti wajah menjadi toko beras pribadi.

“Pasalnya, dikala harga beras merangkak naik seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, seakan tak ada gerakan dari TTI ini, yang konon kabarnya mampu menampung pasokan beras saat harga murah, dan menjual beras murah dengan harga yang wajar,” kata Ena Suharna kepada wartawan, Selasa, (03/04/2018).

Di sisi lain, penggelontoran anggaran operasional TTI justru terus dikuatkan oleh pemerintah melalui Dinas Ketahanan Pangan, namun pasokan gabah kering dan beras siap jual menjadi teka-teki.

Lebih lanjut, Ena menjelaskan bahwa harus ada upaya efisiensi yang dilakukan oleh pemerintah.

“Jika kita perhatikan dengan seksama, Kementerian Pertanian berusaha memotong rantai pasok (supply chain) pangan yang semula 7-8 pihak menjadi hanya 3-4 pihak. Diharapkan dengan berkurangnya pihak-pihak terkait dalam rantai pasok, harga dapat pangan dapat turun hingga mencapai 30%. Kementerian Pertanian melakukan gebrakan dengan meresmikan ratusan Toko Tani Indonesia (TTI) di berbagai wilayah di Indonesia,” jelasnya.

Sementara rancangan pemerintah pusat, struktur baru yang ditawarkan oleh Kementerian Pertanian adalah membuat petani menyalurkan produk ke Gapoktan, Toko Tani Indonesia (TTI) dan langsung konsumen akhir.

Bahkan, diharapkan dengan sistem ini harga pangan menjadi murah dan produsen dapat tetap memperoleh keuntungan yang wajar. Kementerian Pertanian menggandeng pedagang untuk berpartisipasi mengoperasikan TTI.

Lebih jauh, Kementerian Pertanian memiliki target yang optimis dengan membuka 4.000 Toko Tani Indonesia (TTI) hingga tahun 2017. Per Juni 2016, sudah dioperasikan 733 TTI yang tersebar di 33 provinsi di seluruh Indonesia. (*/Sandi)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *