Survei Kepuasan Layanan Haji 2026, BPS Libatkan 14 Ribu Responden dengan Metode Pengumpulan Data Berlapis
MAKKAH — Badan Pusat Statistik (BPS) melaksanakan Survei Kepuasan Layanan Haji Indonesia (SKLHI) pada penyelenggaraan ibadah haji 2026.
Survei itu dilakukan sebagai bentuk evaluasi menyeluruh terhadap kualitas layanan yang diberikan kepada jemaah selama di Tanah Suci.
Wakil Ketua Tim SKLHI BPS, Nur Ihklas, menjelaskan bahwa survei ini merupakan kolaborasi antara BPS dengan Kementerian Haji dan Umrah, yang tahun ini menjadi lembaga baru dalam penyelenggaraan haji.
“Kita ingin memotret, sejauh mana jemaah merasa puas terhadap layanan haji yang diberikan, baik di Makkah maupun Madinah,” ujar Nur Ihklas.
Ia menjelaskan, metode yang digunakan bukan sensus, melainkan survei dengan jumlah sampel sekitar 14.400 jemaah.
Survei dilakukan di tiga lokasi layanan, yakni di Bandara, Madinah, dan juga Makkah.
Untuk waktu survei berlangsung selama penyelenggaraan ibadah haji.
Meski diakui terdapat potensi sampling error sekitar 10 persen, BPS melakukan mitigasi, dengan menambahkan metode wawancara langsung dan observasi untuk memastikan validitas data.

Untuk pengambilan data dari persepsi jemaah, BPS menggandeng ketua kloter untuk distribusi kuesioner, termasuk dibantu ketua rombongan, hingga ketua regu. Hal ini agar penyebaran dapat menjangkau responden secara efektif.
Survei yang dilakukan BPS ini merupakan hal yang rutin dilakukan setiap penyelenggaraan ibadah haji berlangsung.
“Alhamdulillah, udah ada 10 hari kita turun ya, itu semua ketua kloternya memfasilitasi gitu ya,” ungkap Ikhlas.
“Tapi kalau ketua kloternya tadi sibuk, ya kita akan langsung ke ketua rombongan dan ketua regu,” tandasnya.
Diketahui, pengambilan sampel responden dilakukan secara stratified dan multi-stage sampling agar mewakili seluruh embarkasi dan kelompok terbang (kloter).
Selain menggunakan kuesioner, BPS juga mengembangkan metode tambahan seperti wawancara mendalam (in-depth interview) dan observasi langsung di lapangan.
Bahkan, tahun ini juga diperkenalkan sistem digital untuk memudahkan jemaah dalam mengisi survei.
“Ini inovasi yang kita lakukan agar survei semakin akurat dan fleksibel, terutama bagi jemaah yang tidak ingin menggunakan kertas,” jelas Ikhlas. (*/Red/MCH-2026)


