Kemenhaj Gandeng BPS Lakukan Survei Kepuasan Layanan Haji, Sebar Kuisioner Hingga Wawancara Indepth
MADINAH – Kementerian Haji dan Umrah RI (Kemenhaj) menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) untuk menggelar Survei Kepuasan Layanan Haji Indonesia (SKLHI) tahun 1447 H/2026 M.
Survei ini nantinya jadi barometer evaluasi layanan haji setiap tahun.
Wakil Ketua Tim SKLHI BPS, Nur Ihklas, menyebut survei bertujuan memberi timbal balik sejauh mana penyelenggaraan ibadah haji dirasa puas oleh jemaah.
Untuk metode pengumpulan data, BPS menggunakan kuesioner per tahapan layanan, wawancara oleh surveyor, hingga digital.
Berbeda dengan sensus, survei ini menggunakan sampel sekitar 14.400 jemaah.
Teknik pengambilan sampel yang dipakai adalah stratified dan multi stage random sampling berbasis kloter dan embarkasi.
“Kita menggunakan sampling sehingga ada keterwakilan dari setiap embarkasi,” kata Nur Ihklas, di sela-sela aktivitas survei di Madinah, Senin (4/5/2026).
Adapun untuk tahun ini, terdapat inovasi baru. Selain kuesioner, BPS menambah tiga metode, yakni In-depth interview, dimana wawancara mendalam ke jemaah untuk menggali kepuasan atas pelayanan haji lebih detail.
Kemudian observasi lapangan, dimana petugas BPS turun langsung mengecek kamar, konsumsi, transportasi, hingga proses di bandara saat penyambutan.
Selanjutnya kuisioner digital, dimana jemaah bisa mengisi survei tanpa kertas.

“Memberikan keleluasaan bagi para jemaah, kalau mereka nggak mau pakai kertas, bisa pakai digital,” jelasnya.
Selain itu di tahun ini, BPS tidak hanya mengukur kepuasan layanan, tapi juga mengukur mengenai indeks prosesnya. Ia mencontohkan, tahun lalu hanya ditanyakan mengenai pelayanan hotel secara umum.
“Dulu hanya tanya ‘jemaah sudah dapat hotel?’, untuk saat ini ditambah ‘proses pembagian kuncinya lancar nggak? Nunggunya lama nggak?’ Begitu juga konsumsi: ‘makanannya enak?’ ditambah ‘proses pembagiannya gimana? Telat nggak?, dan lainnya,” jelas Ikhlas.
Nantinya, hasil akhir berupa Indeks Kepuasan Layanan Haji akan diolah di Arab Saudi dan dilaporkan ke BPS Pusat.
Setelah itu, kata dia, BPS Pusat akan kolaborasi dengan Kemenhaj merilis angka resminya.
“Hasil dari indeks kepuasan haji tentunya sebagai barometer evaluasi. Ketika nilainya turun atau meningkat, akan menjadi bahan untuk Kemenhaj melihat di layanan mana yang perlu ditingkatkan, tugas fungsi petugas mana yang perlu dievaluasi,” ujarnya.
Nur Ihklas juga menegaskan keberhasilan tidak dilihat dari angka tertentu, tapi dari prosesnya.
“Dulu misalnya sekian nilainya, sekarang naik atau tidak. Nah kenaikan itulah yang disebut keberhasilan,” tukasnya.
Pada Senin (4/5/2026) siang, petugas survei BPS diketahui membagikan kuisioner kepada sejumlah sampel jemaah dari embarkasi KJT Kloter 14 di Hotel Al Ritz Al Madinah.
Petugas survei bekerjasama dengan PPIH Ketua Kloter untuk mendatangi kamar-kamar jemaah, memberikan penjelasan langsung tentang bagaimana cara pengisian kuisioner survei.
Selain jemaah Embarkasi KJT 14, survei BPS Senin juga membagikan kuisioner kepada sampel dari jemaah Embarkasi Banten (JKB) Kloter 09.
Pantauan wartawan dari MCH, melalui survei metode wawancara langsung, sejumlah jemaah mengaku cukup puas dengan layanan haji yang difasilitasi oleh Kemenhaj pada tahun ini. (*/Red/MCH-2026)


