Tradisi ‘Dula’ilan’ di Bulan Ramadhan yang Kian Terkisis di Cilegon

Gerindra Nizar

CILEGON – Membaca kitab Dalail Khairat yang lidah orang Cilegon menyebutnya Dula’ilan di Masjid, Langgar atau Mushola pada saat menjelang berbuka puasa di bulan Ramadhan sudah menjadi tradisi dan ritual rutin bagi masyarakat Cilegon di perkampungan.

Namun sepertinya kearifan lokal yang bernuansa Islam ini semakin terkikis oleh modernisasi global.

Padahal, seperti halnya Al-Qur’an, Dalail Khairat ini juga kerap dimusabaqahkan. Apalagi dalam bulan atau momentum Panjang Maulid Nabi Muhammad SAW yang dalam perayaannya setiap bulan Maulid juga diisi dengan membaca Dala’il Khairat ini.

Fraksi serang

Walaupun di banyak Perkampungan tua di Cilegon yang masih eksis menjaga dan melestarikannya Namun tradisi Dula’ilan pada saat menjelang buka puasa ini Perkampungan pinggiran kota seperti di Kampung Pagebangan Kelurahan Ketileng Cilegon yang mulai jarang mengadakan Dula’ilan.

Hal ini diakui Pimpinan Pondok Pesantren Darul Ikhwan Usatdz Ulil, saat ditanyakan Fakta Banten Minggu (4/6/2017).

“Sekarang di Masjid mah udah jarang kang, ada yang ngajakin juga pemudanya pada kerja, paling kita Dula’ilan nya di Majlis Pesantren,” katanya.

Lebih lanjut, Ulil mengutarakan keprihatinannya akan Tradisi Islam yang sudah mendarah-daging dalam kehidupan sosial dan sejarah masyarakat di kampungnya ini sejak nenek moyang dulu, namun mulai ditinggalkan.

Fraksi

Ia pun berupaya secara terus menerus di Pondoknya dan coba mengaktifkan kegiatan di Masjid Kampungnya.

“Mungkin ini pengaruh zaman, padahal Dula’ilan bisa dapat menjadi filter terhadap arus globalisasi dan imperialisme budaya asing. Tradisi dan budaya Islami seperti ini merupakan jiwa kita sebagai sebuah bangsa. Ia sudah terstruktur dan sedemikian kuat dalam perjalanan sejarah leluhur kita. Oleh karena itu, kami akan coba adakan lagi tradisi keagamaan yang sudah menjadi budaya kita ini tidak boleh luntur sedikit pun atau hilang eksistensinya digerus budaya luar,” pesan Ulil.

Dalam kitab Dala’il Al Khairat, di Muqaddimahnya dicantumkan ucapan:
ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺖَ ﺍﻟﻨَّﻔْﺲَ ﻣِﻨْﻚَ ﺗَﺤَﻜَّﻤَﺖْ ﻭَﻏَﺪَﺕْ ﺗَﻘُﻮْﺩُﻙَ ﻓِﻲْ ﻟَﻈَﻰ ﺍﻟﺸَّﻬَﻮَﺍﺕِ
ﻓَﺎﺻْﺮِﻑْ ﻫَﻮَﺍﻫَﺎ ﺑِﺎﻟﺼَّﻼَﺓِ ﻣُﻮَﺍﻇِﺒًﺎ ﻻَ ﺳِﻴَّﻤَﺎ ﺏِ ” ﺩَﻻَﺋِﻞِ ﺍﻟْﺨَﻴْﺮَﺍﺕِ ” !!

Apabila engkau melihat hawa nafsumu memuncak
Dan ingin menyeretmu ke jeratan syahwat
Maka paligkanlah dengan banyak shalawat
Terutama dengan “Dalail Khairat ”.

Kitab Dalail Khairat disusun oleh Abu Abdillah Muhammad Ibn Sulaiman al-Jazuliy al-Simlaliy al-Syarif al-Hasani, yang lebih dikenal dengan sebutan Imam atau Syekh al-Jazuliy. Ia dilahirkan di Jazulah, Marokko, Afrika.

Imam al-Jazuliy belajar di Fas yaitu sebuah kota yang cukup ramai yang terletak tak jauh dari Mesir. Di kota ini pula ia menulis kitab Dalail Khairat yang terkenal itu.

Kitab ini merupakan kumpulan Shalawat dengan beragam versi redaksi. Sebagaimana al-Barzanji , muatan salawat dengan berbagai variannya, sanjungan kepada Kanjeng Nabi Muhammad SAW dengan keindahan bahasa. (*)

Gerindra kuswandi