Wisata Anyer

Selain Rutin Mandikan dan Gantikan Pakaian, Petugas Haji Juga Mendengarkan Jemaah Lansia Bercerita

PT PCM HUT Cilegon

MADINAH – Abdurrabbani Usman Nur dan para petugas haji dari Tusi Lansia dan Disabilitas (Landis) nampak telaten mendampingi jemaah yang membutuhkan pendampingan.

Selain karena pekerjaannya, salah satu Petugas Landis Sektor 2 Madinah itu menganggap tugas tersebut sebagai ibadah.

Ia bercerita, petugas Landis saban hari terus memantau kondisi dan membantu para jemaah lansia. Bahkan, sampai rutin memandikan hingga mengganti popok mereka.

Memang, jemaah haji tahun 2026 ini didominasi oleh wanita dan lansia. Kemenhaj RI jauh-jauh hari mengimbau, agar para petugas harus extra kerja dan dituntut sabar dalam menghadapi jemaah.

“Setiap hari (melayani lansia), bantu memandikan, mengganti popok, kemudian biasa (makan) kami suapin,” ujarnya.

Bukan tanpa hambatan Abdurrabbani dan para petugas lainnya dalam menjalani tugas rutinitas ini.

Pernah ia menemukan jemaah lansia yang agak sulit untuk makan. Jurus jitu agar mereka mau, maka bisa menggunakan bujuk rayu.

Maklum saja, lansia seperti anak-anak, perlu perhatian khusus dan hati yang lapang supaya mereka mau untuk sekedar makan.

Tak cukup bujuk rayu, terkadang dirinya perlu mendengarkan cerita para lansia.

“Suapin kalau beliau tidak mau (makan), ya dibujuklah, bagaimana seorang lansia yah. Kadang-kadang kita bujuk makan. Kita mendengarkan ceritanya, curhatnya yang mungkin masa lalu ya. Seperti itulah tugas kami,” uangkap dia menceritakan.

PT Sankyu HUT Cilegon
Abdurrabbani Usman Nur, petugas haji dari Tusi Lansia dan Disabilitas (Landis) di Sektor 2 Madinah / Dok MCH 2026

Bukan sekali dua kali Abdurrabbani mendengarkan para jemaah lansia bercerita. Setiap kali para jemaah ingin bercerita, dia dan petugas lainnya harus siap telinga dan memasang muka ramah.

“(Para lansia) butuh didengar ceritanya, kami kadang duduk satu jam. Setelah sudah tenang, baru kami izin pergi,” jelasnya lagi.

Pernah suatu waktu saat bertugas, ia dipanggil sayang oleh salah satu jemaah lansia. Abdurrabbani tidak merasa risih, malah balik memanggil jemaahnya dengan sapaan sayang pula.

“Ya kadang ada yang manggil-manggil kami sayang, ya. Ya sayang… sayang kamu ke mana ya. Kita harus terima. Ya sayang, saya pergi juga. Kami juga bilang, sayang pergi dulu, ya. Seperti itulah yang terkait dengan masalah lansia,” tuturnya.

Setiap malam, Abdur bersama para petugas haji yang lain selalu melakukan evaluasi, berupa pendataan dan penilaian kondisi jemaah lansia. Ia tak ingin ada jemaah yang luput dari perhatian para petugas haji.

“Ini kami selalu rapat tiap malam. Setelah selesai melaksanakan tugas, kami rapat ya. Seluruh tim wajib mengevaluasi apa yang diperlukan, dan kami mendata lansia-lansia yang belum sempat dikunjungi,” ujarnya.

Tak cukup hanya mengurus kebutuhan jasmani para lansia, kebutuhan rohani seperti membantu mereka ibadah pun dilakoni para petugas.

“Kami atur jadwalnya, kami siapkan kursi roda untuk mengantarnya ke Masjid Nabawi melaksanakan shalat. Ataupun kalau perlu kita mendampingi sampai masuk ke Raudhah,” ujarnya.

Abdur bersama timnya dan para petugas lain, bekerja dengan sepenuh hati. Selain karena pekerjaan, ia dan para petugas lain menganggap lansia orang tua mereka juga. (*/Ajo) 

Dindik Cilegon HUT
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien