Wisata Anyer

Jemaah Haji Ini Sempat Masuk ICU Rumah Sakit di Madinah, Kini Kembali Beraktivitas dengan Bantuan Petugas

PT PCM HUT Cilegon

MADINAH – Banyaknya jemaah haji lanjut usia (Lansia) dan resiko tinggi (Risti) kesehatan pada penyelenggaraan haji 2026 ini, membuat para petugas penyelenggara ibadah haji (PPIH) harus bekerja ekstra dalam memberikan pelayanan dan juga pendampingan.

Tidak sedikit jemaah yang setibanya di Tanah Suci, mereka mengalami penurunan kesehatan hingga tidak bisa menjalankan kegiatan apapun.

Salah satu kondisi memprihatinkan sempat dialami oleh jemaah haji asal Kloter 7 Embarkasi SOC, bernama Jauhari.

Dua hari lalu, kakek Jauhari yang berusia 81 tahun ini sempat berada di kamar ICU Rumah Sakit Saudi German Hospital, Madinah.

Kakek Jauhari saat itu terlihat kebingungan, setelah sempat tak sadarkan diri.

Dalam perawatannya di Rumah Sakit, sang kakek terus-menerus meneriakkan nama istrinya, Roisa.

Petugas Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI), dokter yang mendampingi Jauhari saat itu akhirnya membawa Nenek Roisa, istri kesayangannya untuk menenangkan sang suami.

Wanita berperawakan mungil berusia 75 tahun itu dihadirkan mendampingi Jauhari di Rumah Sakit.

Tak lama, wajah kakek yang awalnya nampak kebingungan itu, kini bisa kembali tersenyum setelah melihat istri tercintanya, Nenek Roisa.

Menurut dr Rizkyana, salah satu petugas TKHI, Nenek Roisa memang setia mendampingi Jauhari kemana pun sang suami pergi, termasuk saat bersama-sama menunaikan ibadah di Masjid Nabawi.

Saat ini Kakek Jauhari dan Nenek Roisa sudah kembali ke hotelnya di Karam Hotel Almasi Hotel.

Saat ditemui wartawan, Rabu (29/4/2026), Nenek Roisa dan Kakek Jauhari menunjukkan kebersamaan dengan balutan cinta kasih yang luar biasa.

Keduanya seolah tak ingin terpisah baik jarak maupun waktu.

“Kulo pingin selamet bareng, kulo pingin kaji bareng kalih Bapak. (Saya ingin selamat bersama dan ingin naik haji bersama suami saya-Red),” tutur Nenek Roisa sambil menggenggam tangan suaminya.

Saat ditemui di kamar hotelnya, Rabu pagi, Kakek Jauhari baru saja dimandikan dan dibantu berpakaian oleh Petugas dari Tusi Lansia dan Disabilitas (Landis).

dr Rizkyana berusaha mengingat kejadian dua hari lalu, saat Kakek Jauhari terpaksa dirujuk ke Saudi German Hospital akibat mengalami demam dan penurunan kesadaran.

Berdasarkan pemeriksaan awal tim dokter TKHI, Kakek Jauhari memang menunjukkan tanda-tanda demensia.

PT Sankyu HUT Cilegon

“Namun setelah kami observasi lagi, alhamdulillah ternyata itu hanya merupakan salah satu gangguan penyesuaian saja. Saat ini kondisinya sudah stabil dan sudah melewati fase-fase kritisnya,” kata dr Rizkyana kepada wartawan, Rabu (29/4/2026).

Saat di Rumah Sakit, petugas haji dan jemaah dari satu kloternya menyempatkan menengok kakek asal Brebes itu. Tidak dalam waktu lama, ingatan Kakek Jauhari pun akhirnya kembali membaik.

Kini, Kakek Jauhari sudah bisa kembali beraktivitas dan menginginkan untuk kembali beribadah ke Masjid Nabawi. Tentunya bersama sang istri tercinta, Nenek Roisa.

Mereka juga kembali menyiapkan diri untuk bisa maksimal menjalankan puncak ibadah haji di Makkah.

“Kami dari TKHI terus melakukan pemantauan dan visitasi karena pada usia-usia tersebut (81 tahun-Red) rawan sekali terjadi demensia,” ujar dr Rizkyana.

Kisah Nenek Malka

Sementara itu, kisah lansia yang berbeda terlihat di Hotel Arkan Al Manar Sektor 2 Daker Madinah.

Nenek Malka (75 tahun) adalah potret perjuangan panjang, seorang wanita muslim yang ingin melengkapi ibadahnya di hadapan Allah SWT.

Menunggu selama 15 tahun untuk berangkat haji, Nenek Malka saat ini harus berangkat seorang diri tanpa pendamping.

Di tanah air pun, ia tinggal sebatang kara karena sudah tidak memiliki keluarga lagi.

Melihat kondisi tersebut, petugas haji dari tusi Landis tidak sekadar menyapa. Dengan sigap dan penuh kasih sayang, mereka membantu memandikan Nenek Malka, mengganti pakaiannya, hingga memastikan sang nenek disiplin meminum obat-obatan yang dibutuhkan.

Abdurrabbani, salah satu petugas Landis PPIH Sektor 2 Madinah, menuturkan bahwa tugas mereka memang dirancang untuk menyentuh aspek paling personal dari kebutuhan jemaah.

Di sektornya, tim Landis dibagi menjadi empat kelompok yang berfokus pada penyambutan dan pelayanan visitasi.

“Setiap hari kami berkunjung ke hotel-hotel yang terdapat lansia dan disabilitas. Bagi yang tidak memiliki pendamping, kami rutin membantu menggantikan popok, memandikan, hingga menyuapi makan,” ujar Abdurrabbani.

Tak hanya urusan fisik, petugas juga memenuhi dahaga spiritual jemaah. Banyak lansia yang sejak tiba di Madinah belum sempat ke Masjid Nabawi karena keterbatasan fisik dan ketiadaan pendamping.

“Kami ambilkan kursi roda, kami antar ke Nabawi, bahkan kami dampingi hingga masuk ke Raudhah. Kami juga menjadi pendengar bagi cerita-cerita mereka,” katanya menambahkan. (*/Red)

Dindik Cilegon HUT
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien