Konflik Proyek Geothermal Padarincang Memanas, Warga Akan Kembali Blokir Akses Jalan

Lazisku

SERANG – Konflik yang terjadi antara masyarakat Padarincang dengan pihak koorporasi pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) atau Goethermal di Desa Batu Kuwung, Kecamatan Padarincang, Kabupaten Serang, kembali memanas.

Pasalnya, masyarakat Padarincang yang tergabung kedalam Syarekat Perjuangan Rakyat (SAPAR) terus melakukan upaya penolakan terhadap proyek Geothermal di Padarincang. Hingga pada hari Kamis tanggal 15 Agustus 2019, kembali masyarakat melakukan pemblokiran akses jalan menuju proyek Geothermal.

Namun diketahui, pemblokiran akses jalan tersebut sudah kembali dibongkar oleh oknum yang tidak diketahui tanpa sepengetahuan masyarakat.

Ks

Perwakilan SAPAR, Yadi pun angkat bicara atas kejadian tersebut. Ia mengaku merasa geram dengan pembongkaran akses jalan menuju proyek Geothermal, dan menuding pihak perusahaan sebagai dalang pembongkaran pemblokiran akses jalan menuju proyek Geothermal yang dilakukan oleh pihaknya.

“Itu sudah kesekian kalinya spanduk penolakan dari masyarakat dibongkar tanpa ada musyawarah atau bahasa sedikitpun. Itu tandanya, pihak perusahaan tidak punya i’tikad baik, dan tidak menghargai masyarakat Padarincang,” ucap Yadi kepada faktabanten.co.id, Rabu (21/8/2019).

Kpu

Yadi mengungkapkan, pihaknya tidak akan tinggal diam atas tindakan pembongkaran yang diduga dilakukan oleh pihak perusahaan proyek Geothermal. Ia pun menegaskan bahwa pihaknya tidak takut untuk terus melakukan perlawanan terhadap penolakan proyek Geothermal di Padarincang hingga proyek tersebut benar-benar dibatalkan.

“Kami tidak akan tinggal diam terhadap tindakan perusahaan yang tidak menghargai kami. Kami tidak takut pada siapapun dan ancaman apapun. Kami akan terus melawan hingga titik darah penghabisan, hingga proyek Geothermal hengkang dari bumi Padarincang,” kata Yadi dengan lantang.

Hal senada pun turut disampaikan Tokoh Masyarakat Padarincang, Doib, yang mengatakan bahwa apa yang telah terjadi dalam konflik proyek Geothermal merupakan sebuah bentuk arogansi dari pihak koorporasi untuk mementingkan kepentingannya.

“Ini sudah bentuk arogansi perusahaan yang sangat nyata. Perusahaan ini adalah bukan untuk rakyat. Kepentingannya, kemajuannya dan kemakmurannya hanya untuk koorporasi,” kata Doib.

Untuk itu, Doib pun mengajak seluruh elemen masyarakat Padarincang untuk lebih solid dalam melakukan gerakan penolakan proyek Geothermal di wilayah Padarincang.

“Ini menjadi pertimbangan yang lebih mendalam lagi. Bahwa, masyarakat harus lebih kuat untuk menolak proyek Geothermal di Gunung Prakasak, Padarincang,” tandasnya. (*/Qih)

DPRD Banten LH
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien