Beda Sikap dengan Pemprov Banten, Disdikbud Kota Serang Tak Pilih Barak TNI untuk Siswa Nakal

SERANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Banten berencana melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam pembinaan siswa SMA sederajat yang dinilai bermasalah atau memiliki perilaku kenakalan serius.
Program yang mengadopsi pola pembinaan seperti yang diterapkan Pemerintah Provinsi Jawa Barat tersebut rencananya mulai dilaksanakan pada Oktober 2026.
Namun, kebijakan tersebut belum menjadi pilihan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Serang, khususnya untuk jenjang SMP.
Kepala Disdikbud Kota Serang, Ahmad Nuri, mengatakan pihaknya masih mengedepankan pembinaan siswa melalui satuan pendidikan.
Menurutnya, tingkat kenakalan siswa SMP di Kota Serang saat ini masih dapat ditangani melalui pendekatan pendidikan tanpa harus mengirim mereka ke barak militer.
“Di SMP belum mengambil keputusan ke arah sana. Mungkin jenjang, SMA atau SMK itu di tingkat provinsi untuk memasukkan siswa yang bermasalah ke barak,” kata Ahmad Nuri, Kamis (8/10/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah bentuk kenakalan yang ditemukan pada jenjang SMP di Kota Serang, seperti perundungan (bullying) dan perkelahian antarsiswa, masih berada dalam kategori yang dapat ditangani oleh sekolah.
Karena itu, pihaknya memilih memperkuat pembinaan karakter di lingkungan sekolah melalui berbagai program pendidikan.
“Di SMP, dalam perspektif kita, masih dalam pendekatan yang ada di satuan pendidikan untuk melakukan pembinaan-pembinaan. Makanya hari ini kita gerakkan Serang Mengaji,” ujarnya.
Menurut Ahmad, program tersebut menjadi salah satu upaya membangun karakter siswa. Selain itu, siswa juga diarahkan untuk lebih aktif memanfaatkan perpustakaan sebagai bagian dari pembinaan dan pengembangan kegiatan positif.
“Ini salah satu membangun karakter. Yang kedua, mereka dikonsentrasikan untuk mengaktivasi di perpustakaan. Jadi anak-anak yang mulai nakal itu kita ada proses supaya turun dulu, tidak langsung ke barak,” jelasnya.
Ahmad menilai kondisi kenakalan siswa SMP di Kota Serang belum menunjukkan persoalan yang cukup serius hingga membutuhkan pola pembinaan di barak militer.
“Kenakalan di Kota Serang, khususnya tingkat SMP, tidak begitu signifikan. Masih dalam koridor dan tahapan kenakalan anak-anak SMP, belum sampai menimbulkan gejolak luar biasa atau patologi sosial,” katanya.
Meski demikian, Ahmad tidak menutup kemungkinan perlunya kajian apabila di kemudian hari muncul persoalan kenakalan siswa yang lebih berat.
Menurutnya, keputusan untuk menerapkan pembinaan berbasis militer harus mempertimbangkan berbagai aspek, termasuk kondisi psikologis dan karakter anak.
“Sebagai entitas pendidikan, kita juga perlu mengkaji lebih komprehensif faktor psikologis dan kondisi anak, agar proses pendekatan ke barak militer nantinya efektif dalam rangka pendidikan anak,” ujarnya.
Untuk saat ini, kata Ahmad, Disdikbud Kota Serang masih menilai pembinaan melalui satuan pendidikan sebagai langkah yang paling tepat.
“Menurut saya, hari ini masih bisa dilakukan di satuan pendidikan dengan program-program yang menerjemahkan visi Wali Kota,” pungkasnya.***


