Badak Kayu Ujung Kulon yang Bertahan Diterpa Tsunami dan Pandemi

Lmp-dindik-helldy

PANDEGLANG – Ujung paling barat Pulau Jawa menjadi rumah bagi satwa langka badak jawa.

Badak bercula satu tersebut tinggal di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) yang sebagain besar wilayahnya terletak di Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang, Banten.

TNUK jadi tempat wisata dan dikenal luas setelah dijadikan situs warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO pada 1991.

Banyak wisatawan yang datang dari berbagai daerah, termasuk wisatawan mancanegara.

Sayangnya, saat itu Ujung Kulon tidak punya cendera mata yang bisa dibawa pulang pengunjung sebagai buah tangan.

Hingga kemudian pada 2012, dibuat suvenir berupa patung badak.

“Gagasannya datang dari WWF, muncul beberapa pilihan suvenir, akhirnya dipilih badak kayu berupa patung badak, karena badak ikon Ujung Kulon. Akhirnya diadakan pelatihan membuat patung,” kata Mardi Badarudin selaku Ketua Ciwisata kepada Wartawan, Minggu lalu.

Ciwisata merupakan singkatan dari Cinibung Wisata, kampung di mana komunitas pengrajin patung badak ini berada.

Kampung Cinibung berada di Desa Kertajaya, Sumur, yang menjadi jalur utama masuk ke Kawasan TNUK.

Saat komunitas ini dibentuk pada 2012 lalu, menurut Mardi, ada 20 pengrajin yang menekuni pembuatan badak kayu ini.

Namun, kini hanya tersisa 6 orang saja. Itupun hanya sebagai sampingan saja.

Menurut dia, ini merupakan proses seleksi alam, di mana yang serius tetap bertahan menjadi pengrajin. Sementara lainnya kembali ke rutinitasnya masing-masing, seperti petani, nelayan, hingga kuli bangunan.

Kendati hanya dilakoni oleh 6 orang pengrajin, namun kegiatan membuat badak kayu terus berlangsung. Mereka membuat dua jenis kreasi suvenir, yakni gantungan kunci dan patung badak.

Patung badak juga tersedia dua ukuran, yakni 15 dan 30 sentimeter.

Harga yang dijual bervariasi, mulai dari Rp 15.000 untuk gantungan kunci dan Rp 450.000 untuk patung badak kayu dengan ukuran paling besar.

“Pernah membuat patung badak dengan desain batik, namun peralatannya hanyut terbawa tsunami akhir 2018 lalu. Jadi sekarang hanya buat patung badak polos saja dilapisi melamin,” kata Mardi, selaku Ketua Ciwisata di Kecamatan Sumur, Pandeglang, Banten.

Badak kayu merupakan produk yang ramah lingkungan. Kayu yang digunakan, menurut Mardi, merupakan kayu bekas material yang tidak dipakai. Kayu-kayu tersebut mudah ditemukan di lingkungan sekitar kampung, tanpa menebang pohon baru.

ks-ip-helldy

Badak kayu yang dibuat kelompok pengrajin Ciwisata ini jadi cendera mata resmi Ujung Kulon.

Pada 2014 lalu, Dinas Pariwisata Kabupaten Pandeglang menjadikan kampung ini sebagai destinasi kampung pengrajin.

Wisatawan yang datang ke Ujung Kulon biasanya diarahkan ke kampung ini untuk membeli cendera mata badak kayu. Mardi mengatakan, wisatawan yang berkunjung ke Ciwisata bukan hanya lokal namun juga dari luar negeri.

“Sudah banyak yang beli, pernah kita kirim juga badak kayu ini ke Belanda pesanan wisatawan sana,” kata dia.

Badak kayu juga dipajang di galeri sebuah penginapan lokal untuk mengenalkan ke wisatawan. Galeri lainnya juga ada di Kantor Dinas Pariwisata Pandeglang.

Mardi mengatakan, omzet souvenir badak kayu yang dihasilkan oleh kelompok pengrajin Ciwisata ini per tahun pernah mencapai sekitar Rp 50 juta. Tapi itu dulu sebelum tsunami.

“Setelah tsunami sepi orderan, karena wisata lumpuh. Namun beberapa bulan kemudian kita mulai bangkit, tapi jatuh lagi karena pandemi,” kata Mardi.

Saat pandemi, menurut Mardi, wisata benar-benar lumpuh karena TNUK sempat ditutup beberapa bulan.

Sejak awal 2020 hingga Oktober ini, menurut dia, omzetnya baru mencapai Rp 4 juta per bulan.

Sejak dibentuk pada 2012 lalu, menurut Mardi, kelompok Ciwisata tidak mengalami peningkatan jumlah pengrajin, malah semakin berkurang. Mardi mengaku kesulitan mencari penerus pengrajin, terutama dari kalangan pemuda.

Untuk mencari para pengrajin baru, Mardi kerap menggelar workshop membuat badak kayu untuk kalangan anak muda.

Namun mereka hanya sekedar ikut saja tanpa ada niat serius menjadi pengrajin. Mardi memaklumi hal itu.

Menjadi pengrajin, menurut dia, memang dibutuhkan keterampilan khusus dan harus sabar untuk menciptakan satu buah badak kayu.

Untuk memecut motivasi para pemuda supaya jadi pengrajin, Mardi memamerkan cerita dirinya yang sukses bepergian ke luar kota secara gratis, karena jadi pengrajin badak kayu, baik untuk pameran maupun pelatihan.

Mardi bermimpi, kelak badak kayu menjadi sumber penghasilan utama bagi masyarakat Cinibung.

Menurut dia, peluang usaha terbuka cukup besar apabila digeluti dengan serius.

Apalagi, Ujung Kulon saat ini tengah diajukan untuk menjadi Geopark Nasional. Jika lolos, maka akan lebih banyak lagi wisatawan yang datang. (*/Kompas)

bb-pcm-helldy
Pagem