
SERANG – Perempuan Indonesia Raya (PIRA) Banten terus mendorong kader perempuan Partai Gerindra untuk meningkatkan kapasitas dan berani mengambil peran lebih besar dalam politik, termasuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
Ketua DPD PIRA Banten Encop Sofia mengatakan, pendidikan politik bagi perempuan masih perlu diperkuat.
Menurutnya, PIRA memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas perempuan hingga ke tingkat akar rumput.
“Masih banyak yang harus kita kejar ketinggalan. Sehingga pendidikan politik khusus untuk perempuan itu perlu ekstra,” kata Encop Sofia yang juga menjabat Anggota DPRD Banten Fraksi Partai Gerindra, Selasa (6/10/2026).
Ia menjelaskan, PIRA berupaya membekali perempuan dengan pemahaman mengenai hak-haknya, termasuk kemampuan melakukan advokasi serta memperjuangkan kepentingan masyarakat melalui anggaran maupun kebijakan.
Dengan pembekalan tersebut, Encop berharap kader-kader perempuan potensial yang bergabung dalam Gerindra dapat semakin termotivasi untuk memperluas perjuangan melalui jalur politik.
Salah satunya dengan mendorong kader PIRA untuk berani mencalonkan diri sebagai anggota legislatif pada Pemilu mendatang.
“Teman-teman PIRA yang perempuan potensial yang bergabung di Gerakan Indonesia Raya, mudah-mudahan termotivasi untuk lebih jauh lagi perjuangannya, melakukan advokasi, yaitu dengan menjadi anggota legislatif,” ujarnya.
Menurut Encop, keterwakilan perempuan dalam politik menjadi hal penting. Terlebih, ketentuan mengenai keterwakilan perempuan dalam pencalonan anggota legislatif telah memberikan ruang bagi perempuan untuk terlibat lebih besar dalam politik.
Namun, ia mengakui bahwa peningkatan jumlah perempuan dalam daftar calon belum otomatis berbanding lurus dengan keterpilihan perempuan sebagai anggota legislatif.
“Kesempatan kuota untuk perempuan itu setiap periodenya semakin meningkat. Sanksinya juga semakin meningkat untuk setiap partai politik yang tidak sampai 30 persen kuota perempuan. Tetapi kita sadar bahwa keterpilihan perempuan masih sedikit,” katanya.
Karena itu, menurut Encop, kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah bagi PIRA untuk memperkuat kader-kader perempuan potensial agar mampu bekerja bersama masyarakat.
Ia menilai, pengalaman kader dalam melakukan advokasi dan pelayanan kepada masyarakat menjadi modal penting ketika nantinya maju sebagai calon legislatif.
“Ini PR PIRA bagaimana bisa memperkuat perempuan-perempuan potensial untuk bekerja bersama melakukan advokasi untuk masyarakat dan bahu-membahu melayani masyarakat sehingga teman-teman PIRA bisa terpilih,” ujarnya.
Encop mengatakan, kedekatan dengan masyarakat juga menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan pemilih.
Menurutnya, masyarakat cenderung memilih sosok yang dikenal dan memiliki rekam jejak pelayanan di lingkungan mereka.
“Karena masyarakat tentunya senang yang diwakilinya itu adalah orang yang kenal dan orang yang menjadi bagian dari dia. Dia menyaksikan sendiri bagaimana kiprah perempuan itu,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan PIRA tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterwakilan perempuan, tetapi juga mendorong Partai Gerindra agar semakin memiliki sensitivitas terhadap persoalan perempuan, penyandang disabilitas, dan anak-anak.
Untuk mencapai target tersebut, PIRA saat ini memilih fokus melakukan berbagai kegiatan pelayanan dan membangun solidaritas antarkader.
Hal itu dinilai sebagai bagian dari proses mempersiapkan kader sebelum memasuki kontestasi politik.
“Kita harus optimis. Sekarang kerja kami karena sekarang belum Pemilu, kerja kami adalah bagaimana belajar memiliki solidaritas bersama, memiliki keberpihakan, dan bekerja bersama,” jelasnya.
Encop menambahkan, pengabdian kepada masyarakat tidak harus selalu dilakukan melalui kegiatan besar. Menurutnya, langkah-langkah kecil yang memberikan manfaat bagi masyarakat justru dapat menjadi proses pembelajaran bagi kader PIRA.
“Kami meyakini bahwa bekerja itu tidak mesti besar-besar. Tapi dari hal-hal yang kecil yang itu mungkin bisa dan itu bermanfaat,” katanya.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat mengasah perspektif kader PIRA dalam memahami kebutuhan masyarakat. Perspektif pelayanan itu, kata dia, nantinya harus menjadi dasar ketika seorang kader terpilih sebagai anggota legislatif.
“Kalau menjadi dewan, perspektif itu yang menjadi jantung dan ruhnya. Kalau niatnya itu pada pelayanan, insyaallah masyarakat akan suka dan insyaallah masyarakat akan memilih,” ujarnya.
Terkait target keterwakilan kader PIRA di lembaga legislatif, Encop menyebut pihaknya memiliki target untuk mendorong keterwakilan perempuan di DPRD Provinsi Banten hingga 30 persen.
“Targetnya bagaimana Provinsi Banten bisa dapat anggota dewan 30 persen,” pungkasnya.***


