Wisata Anyer

Puskesmas Warunggunung Raih Akreditasi Utama, Juara 2 Banten Jadi Dorongan Perkuat Pelayanan Publik

LEBAK– Puskesmas Warunggunung, Kabupaten Lebak, mencatat sejumlah capaian dalam peningkatan mutu pelayanan kesehatan.

Selain menyandang predikat Akreditasi Utama, Puskesmas Warunggunung juga meraih peringkat kedua tingkat Provinsi Banten dalam penilaian kepuasan pelayanan publik tahun 2024, dengan nilai 96,04 dan masuk zona hijau.

Capaian itu tidak dipandang sebagai akhir dari proses pembenahan, melainkan menjadi bahan evaluasi untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.

Kepala Puskesmas Warunggunung, N. Susilawati, Bdn, S.SiT, MKM, mengatakan penghargaan dan hasil penilaian tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai sebuah prestasi, tetapi menjadi bahan evaluasi untuk melihat sejauh mana pelayanan yang diberikan telah memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Walaupun kami memperoleh predikat Akreditasi Utama dan juara kedua di tingkat provinsi, kami tetap berkomitmen meningkatkan pelayanan. Ini tidak kami jadikan sebagai sebuah kebanggaan saja, tetapi tetap menjadi bahan evaluasi agar ke depan semakin baik,” kata N. Susilawati kepada Fakta Banten, Sabtu (26/9/2026).

Menurutnya, kualitas pelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari pencapaian administratif maupun penghargaan.

Hal yang lebih penting adalah pengalaman masyarakat ketika memperoleh pelayanan, mulai dari keramahan petugas, kebersihan lingkungan, kejelasan informasi, kecepatan merespons kebutuhan hingga kesesuaian pelayanan dengan kondisi pasien.

Bagi sebagian masyarakat, istilah akreditasi Puskesmas mungkin masih dipahami sebatas penilaian administratif.

Padahal, akreditasi merupakan bagian dari upaya memastikan penyelenggaraan pelayanan dan tata kelola fasilitas kesehatan berjalan sesuai standar yang telah ditetapkan.

Secara umum, tingkatan akreditasi Puskesmas meliputi Dasar, Madya, Utama dan Paripurna.

Puskesmas Warunggunung saat ini menyandang Akreditasi Utama. Predikat tersebut menjadi pijakan untuk terus meningkatkan mutu pelayanan dengan target berikutnya menuju Akreditasi Paripurna.

“Semoga kami bisa sampai ke predikat Akreditasi Paripurna. Kami sedang mengupayakan itu,” ujar N. Susilawati.

Namun, menurutnya, target menuju predikat yang lebih tinggi tidak boleh hanya berorientasi pada penghargaan.

Standar yang menjadi bagian dari akreditasi harus diwujudkan dalam praktik pelayanan sehari-hari sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Salah satu instrumen yang digunakan untuk melihat pengalaman masyarakat adalah Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM).

Data hasil penelitian yang diolah pada 2025 menunjukkan nilai IKM Puskesmas Warunggunung mengalami perubahan dari tahun ke tahun.

Pada 2021 nilainya tercatat 80,38, kemudian 80,45 pada 2022, 81,14 pada 2023, 83,91 pada 2024, dan meningkat menjadi 86,08 pada 2025.

Sementara pada 2026, pengukuran kepuasan masyarakat masih dilakukan secara berkala. Nilai IKM pada Triwulan I mencapai 84,32, sedangkan Triwulan II sebesar 84,80. Untuk Triwulan III, proses pengukuran masih berlangsung.

N. Susilawati menjelaskan, pengukuran dilakukan secara berkala dengan pengambilan sampel setiap tiga bulan. Metode penghitungan disesuaikan dengan ketentuan survei yang digunakan, termasuk penggunaan rumus Morgan.

“Indeks penilaian kepuasan masyarakat terhadap pelayanan dilakukan setiap hari. Tiga bulan sekali diambil sampel. Kalau sekarang menggunakan rumus Morgan,” jelasnya.

Menurutnya, angka dalam survei kepuasan masyarakat tidak berhenti sebagai data. Hasil tersebut digunakan untuk melihat bagian pelayanan yang masih perlu diperbaiki.

Dengan demikian, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima layanan, tetapi juga menjadi sumber informasi penting dalam peningkatan mutu pelayanan publik.

Perbaikan pelayanan, kata N. Susilawati, tidak selalu harus dimulai dari persoalan besar. Hal-hal sederhana yang dirasakan langsung oleh masyarakat juga menjadi perhatian.

Salah satunya terkait kebersihan fasilitas. Ketika masyarakat menyampaikan keluhan mengenai kondisi kamar mandi, misalnya, petugas berupaya menindaklanjutinya secara langsung.

“Biasanya kalau ada yang laporan kamar mandi kotor, langsung oleh kita dibersihkan,” katanya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas pelayanan publik juga dibentuk dari aspek yang sehari-hari bersentuhan dengan masyarakat.

Kebersihan ruangan, kenyamanan ruang tunggu, keramahan petugas, kejelasan informasi, waktu pelayanan serta respons terhadap keluhan menjadi bagian dari pengalaman masyarakat saat datang ke fasilitas kesehatan.

Karena itu, setiap masukan masyarakat dapat menjadi informasi untuk memperbaiki pelayanan.

Dalam pelayanan kesehatan, kebutuhan pasien tidak hanya berkaitan dengan pemeriksaan atau pemberian obat. Pasien juga membutuhkan lingkungan yang aman, nyaman, serta informasi yang mudah dipahami.

Di Puskesmas Warunggunung, pasien terlebih dahulu mendapatkan pemeriksaan sesuai kebutuhannya. Selanjutnya, pelayanan dapat diarahkan kepada tenaga kesehatan yang sesuai, baik dokter, bidan maupun perawat.

Pola tersebut dilakukan agar pasien memperoleh penanganan yang lebih terarah berdasarkan kondisi dan kebutuhan pelayanan.

Untuk pelayanan rawat inap, Puskesmas Warunggunung memiliki tujuh tempat tidur.

Jumlah kunjungan masyarakat juga berubah sesuai hari pelayanan. Pada Sabtu dan Minggu, jumlah masyarakat yang dilayani setidaknya paling sedikit sekitar 164 orang, sedangkan pada hari kerja yaitu Senin-Jumat jumlah kunjungan dapat mencapai lebih dari 200 orang.

Pelayanan didukung sekitar 65 pegawai, yang terdiri antara lain dari 26 bidan dan 19 perawat dikurangi 1 perawat akan pindah tugas.

Untuk tenaga dokter terdapat empat orang, dengan kondisi tiga dokter masih bertugas dan satu dokter direncanakan pindah tugas.

Dengan jumlah kunjungan dan sumber daya yang tersedia, koordinasi serta kerja sama antar petugas menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan pelayanan.

Selain Akreditasi Utama, penilaian kepuasan pelayanan publik juga menjadi catatan penting bagi Puskesmas Warunggunung.

Pada 2024, Puskesmas Warunggunung meraih piagam penghargaan dari Ombudsman dengan nilai 96,04 dan menempati peringkat kedua tingkat Provinsi Banten. Nilai tersebut berada dalam zona hijau, yang menjadi bagian dari hasil penilaian pelayanan publik.

Bagi jajaran Puskesmas Warunggunung, capaian tersebut bukan alasan untuk mengendurkan upaya perbaikan.

N. Susilawati menegaskan bahwa keberhasilan pelayanan merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran.

“Keberhasilan ini bukan semata-mata kerja sendiri, tetapi kerja tim yang selalu kami kedepankan,” ucapnya.

Penilaian terhadap pelayanan juga datang dari masyarakat yang berinteraksi langsung dengan Puskesmas.

Zaenal, warga Desa Sukarendah, memberikan penilaian positif terhadap pelayanan yang diterimanya.

“Bagus pelayanannya, perawatnya baik, dan rumah sakitnya bersih,” katanya.

Sementara Eneng Royani, warga Pasir Bedil, Desa Cempaka, Kecamatan Warunggunung, menilai lingkungan Puskesmas cukup bersih dan pelayanan petugas memberikan rasa nyaman ketika ia mendampingi anaknya, Ramdani.

“Bersih tempatnya, makanan enak, ibu perawatnya sangat baik, bikin nyaman,” ujarnya.

Masukan maupun pengalaman masyarakat tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai pelayanan yang dirasakan secara langsung di lapangan.

N. Susilawati mengatakan jajaran Puskesmas Warunggunung terus mengikuti arahan Pemerintah Daerah yaitu Bupati Lebak dan Sekretaris Dinas Kesehatan hingga Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lebak dalam upaya menjaga serta meningkatkan kualitas pelayanan.

Upaya tersebut diarahkan untuk mendukung pelayanan kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat semangat Lebak Sehat dan Lebak Ruhay.

Menurutnya, penghargaan dan predikat akreditasi harus ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan peningkatan mutu, bukan sebagai tujuan akhir.

“Meskipun belum sepenuhnya sempurna, kami Puskesmas Warunggunung tetap berupaya semaksimal mungkin dalam melayani masyarakat,” tutur N. Susilawati.

Dengan capaian Akreditasi Utama, nilai penilaian pelayanan publik 96,04 dan peringkat kedua tingkat Provinsi Banten pada 2024, Puskesmas Warunggunung memiliki sejumlah capaian yang dapat menjadi bahan evaluasi sekaligus pijakan untuk memperkuat pelayanan.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelayanan kesehatan tidak hanya terlihat dari piagam atau predikat yang diperoleh.

Bagi masyarakat, mutu pelayanan lebih nyata ketika mereka mendapatkan pelayanan yang ramah, lingkungan yang bersih, informasi yang jelas, penanganan sesuai kebutuhan serta respons yang baik terhadap setiap masukan. (*/Sahrul).

WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien