Wisata Anyer

Kartini Lebak Ini Tak Kenal Lelah Ubah Pola Tanam Tradisional ke Modern

 

LEBAK — Di bawah terik matahari, hamparan sawah seluas 679 hektare di Kecamatan Kalanganyar, Kabupaten Lebak, Banten, menjadi saksi perubahan besar di sektor pertanian.

Seorang penyuluh perempuan, Dike Cidrasari, konsisten mendorong petani beralih dari pola tanam tradisional menuju sistem pertanian modern berbasis teknologi.

Dike, yang akrab disapa “Kartini Lebak”, aktif memberikan penyuluhan kepada kelompok tani untuk meningkatkan perilaku, sikap, dan keterampilan (PSK).

Upaya tersebut perlahan mengubah kebiasaan petani yang sebelumnya mengandalkan metode tradisional dengan hasil produksi yang terbatas.

Sejak 2021, Dike mulai mengenalkan penggunaan teknologi pertanian, seperti traktor, benih unggul, keseimbangan pupuk organik dan non-organik, penggunaan pestisida yang tepat, serta sistem tanam jajar legowo.

Hasilnya, produktivitas pertanian meningkat dan kesejahteraan petani mulai membaik.

“Sekarang petani di sini merasakan keuntungan dari penerapan teknologi pertanian modern, sehingga taraf hidup mereka relatif meningkat,” kata Dike, Selasa (21/4/2026).

Perubahan juga terlihat dari munculnya petani muda yang mengembangkan berbagai komoditas, seperti cabai, pepaya, tomat, bawang, hingga budidaya melon, semangka, dan jeruk.

Sementara itu, petani berusia 45 hingga 70 tahun juga mulai menerima penerapan teknologi karena dinilai lebih menguntungkan.

Dike membina sedikitnya 44 kelompok tani, termasuk kelompok wanita tani. Ia dikenal aktif turun langsung ke lapangan dengan pendekatan sederhana agar lebih mudah diterima petani.

Cara tersebut dinilai efektif dalam membangun kedekatan dan menghilangkan jarak.

Atas dedikasinya, Dike meraih penghargaan sebagai Penyuluh PNS Teladan 2022 tingkat Provinsi Banten dan nasional.

Penghargaan tersebut diserahkan oleh Plt Gubernur Banten dan Menteri Pertanian saat itu.

Ketertarikan Dike pada dunia pertanian telah tumbuh sejak kecil, terinspirasi dari orang tuanya yang juga bekerja sebagai penyuluh pertanian.

Ia bahkan kerap ikut ke desa-desa binaan sejak dini, yang kemudian membentuk cita-citanya untuk berkontribusi dalam mewujudkan swasembada pangan.

“Saya yakin kelompok tani binaan bisa sejahtera dan keluar dari kemiskinan karena hasil pertanian mampu meningkatkan pendapatan ekonomi,” ujarnya.

Dampak pembinaan juga dirasakan Kelompok Wanita Tani (KWT) di Desa Pasir Kupa. Ketua KWT, Mamah Marhamah, mengatakan sekitar 30 petani perempuan kini mampu menghasilkan pendapatan dari budidaya pertanian.

Awalnya mereka mendapat bantuan benih cabai, sayuran, kacang panjang, dan kacang tanah yang dikelola secara kelompok.

Kini, usaha tersebut berkembang menjadi pengelolaan mandiri dengan berbagai komoditas hortikultura dan palawija.

Dalam satu kali musim panen, petani perempuan tersebut dapat meraup pendapatan sekitar Rp5 juta hingga Rp8 juta, terutama dari hasil panen kacang panjang dan ubi jalar.

“Kami menjalankan usaha pertanian ini untuk membantu ekonomi keluarga, apalagi ada anak yang sedang kuliah,” kata Mamah.***

DPRD Banten MA
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien