Akses Jalan Menuju Taman Nasional Ujung Kulon, Bertahun-tahun Rusak Parah

PANDEGLANG – Puluhan tahun jalan menuju Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) masih saja rusak parah tanpa ada upaya perbaikan, sehingga kerap membahayakan bagi pengguna jalan.

Hal ini diungkapkan Diki Supriadi warga Ujung Jaya kepada Fakta Banten, dimana Diki mengeluhkan akses jalan menuju kampungnya yang dekat dengan kawasan TNUK, selama ini tidak tersentuh pembangunan.

“Jalan ini sudah lama tidak dibangun, yah bahaya bagi pengguna jalan, dan dibangun pun sebagian jalan saja tidak sampai selesai, entah kenapa?”ungkapnya kepada melalui telepon genggam, Rabu (2/8/2017).

Ia juga mengungkapkan, buruknya akses jalan menuju kawasan TNUK membuat transportasi menuju perkotaan dari Ujung Kulon tidak banyak, sehingga pelajar yang hendak menuju sekolah harus menumpuk naik ke atas mobil angkutan umum.

“Karena jalan rusak, angkutan umum pun jarang hanya ada beberapa, dan membuat para pelajar naik sampai ke atas mobil, kan bahaya mas, saya harap sih pemerintah bisa segera membangun jalan ke desa kami,” ungkapnya tegas

Hal yang sama diutarakan Doni Sadoni melalui akun facebooknya, ia mengeluhkan, ketertinggalan Kabupaten Pandeglang dengan kondisi jalan yang rusak parah dan membahayakan para pengguna jalan.

“Apakah harus ‘gamsit’ agar Pandeglang keluar dari ketertinggalan, mirisss!!! Demi masa depan penuh ketertinggalan,” tulis Doni di akun facebooknya.

Doni juga memaparkan, dengan adanya jalan rusak parah tersebut tentunya sangat menghambat pembangunan terhadap semua sektor, khususnya sektor pendidikan dan ekonomi.

“Selain angkutan masih jarang ditambah kondisi jalan dari mulai Desa Ujung Jaya, Taman Jaya, Cigorondong, Tunggal Jaya, kerta mukti dan Kertajaya rusak parah,” ungkapnya kepada melaui pesan facebook, Rabu (2/8/2017) malam.

Ia pun mengatakan, miris melihat anak-anak setiap berangkat dan pulang sekolah naik angkutan umum di atas mobil, dan sudah menjadi aktivitas sehari-hari.

“Tentunya para sopir juga bukan tidak hawatir, namun jika saja mereka tidak dibawa ini justru mereka tidak pada sekolah karena masih jarang angkutan,” ungkapnya (*)