Refleksi 18 Tahun Kota Cilegon; Mengenang Kehidupan Masyarakat Pesisir Cilegon yang Kini Hilang

Gerindra Nizar

Oleh: Sang Revolusioner

PERAIRAN laut Kota Cilegon yang berada di Selat Sunda, secara fisik menghampar dengan luas wilayah Pantai 55 Km2 dan Panjang Garis Pantai 25 Km, serta Luas Perairan Laut 185 Km2 (Data Disperla Cilegon), yang menjadikan Kota Cilegon ini dapat juga disebut sebagai Kota Maritim.

Kebanyakan masyarakat Cilegon sekarang khususnya generasi muda, mungkin belum mengetahui akan kisah sejarah dari pantai atau pesisir Cilegon yang terbentang dari ujung Utara di Pulomerak dan ujung Barat di Ciwandan ini.

Fraksi serang

Kisah akan kehidupan masyarakat di era tahun 70-an sampai 90-an yang mengalami langsung dan merasakan kemakmuran dari pesisir alam yang menyuguhkan hutan mangrove serta muara sungai dengan aneka ragam kekayaan biota lautnya yang menjadi mata pencaharian utama masyarakat di pesisir Barat Cilegon kala itu.

Hal ini diungkapkankan oleh pelaku sejarah, Derry Adari, yang semasa kecilnya pernah mengalami mudahnya mendapatkan hasil pangan dari alam pesisir Barat Cilegon yang melimpah ruah.

“Kalau dulu waktu saya kecil mah gak punya duit juga gak susah, tinggal pergi ke Alas Tancang (pesisir hutan bakau), bebas mau ambil apa dari alam. Ambil ikan macam-macam tergatung musimnya, bisa cari klorak (sejenis siput), udang, kepiting, dan lainnya.
Saking banyaknya sampe dawuk (sejenis tas orang Cilegon dulu) penuh, hasilnya sebagian dimasak, sebagian ditukar beras dan kalau ada lebihnya kasih ke tetangga. Pokoknya dulumah makmur aja,” ungkap Kang Derry saat ditemui di kediamannya, Selasa malam (25/4/2017).

Namun akibat ulah campur tangan manusia juga, bergantinya wajah pesisir di Cilegon akibat kepentingan reklamasi pantai untuk pembangunan pabrik-pabrik raksasa, pelabuhan-pelabuhan dan perhotelan di pesisir Utara, menguruk dan penyempitan muara-muara sungai, menghilangkan hutan mangrove yang sudah tentu merusak ekosistem dengan keanekaragaman kekayaan biota lautnya yang dulu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat di sekitarnya.

Cilegon kini bangga menjadi kota dengan segala bentuk dan keberadaannya kini. Kini di HUT nya ke 18 yang jatuh pada 27 April 2017 besok mengusung “Smart City” ini memang ‘Smart’, seperti kita ketahui bersama, selama 18 tahun itu pula tidak menjadikan potensi pesisir sepanjang 25 Km itu satu pun titik pantai sebagai destinasi wisata untuk kebahagiaan masyarakatnya.

Bahkan objek wisata Pantai Kelapa Tujuh yang sudah ada di Pulomerak dan ramai dikunjungi masyarakat pun, kini ditutup dan direklamasi karena kebijakan ‘Smart’ nya itu.

Dan mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa di pesisir Cilegon dulu juga terdapat beberapa bibir pantai yang lebih eksotik dibandingkan pantai Anyer, seperti yang tersisa di pantai Tanjung Leneng, yang kini keberadaan terisolir di dalam Pelabuhan Pelindo II.

Beberapa nama pesisir itu kini keberadaannya sudah tidak ada, beberapa yang tersisa pun sulit diakses masyarakat, karena tertutup tembok-tembok pagar pabrik dan pelabuhan, sebagaimana kembali ditegaskan oleh catatan pelaku sejarah yang akrab dipanggil Kang Derray ini.

Fraksi

Nama-nama lokasi potensi bagi kehidupan masyarakat era tahun 70-an sampai 90-an di pesisir Cilegon Barat juga disebut alas dan tancang, diantaranya:
1. Pesisir, Alas Ciwandan
2. Alas Cine Cigading
3. Pesisir, Alas Cemara Cigading
4. Alas Kecepit Penawuan
5. Alas Tarub Kubang Welut
6. Alas, Pesisir Sentigi Samangraya KDL
7. Alas, Pesisir Legon Utara KDL
8. Alas, Pesisir Tanjung.
9. Alas, Tanjang Kiaji Umar
10. Alas, Pesisir Watu Lunyu
11. Alas, Merebo
12. Alas, Pesisir Lelean
13. Alas, Pesisir Tangkal Layu
14. Alas Ki Mufan
15. Alas Mi Wilan
16. Pesisir Semegur.
(Itu belum yang di Merak sebelah Utara Cilegon sana)

“Namun kini hanya tinggal kenangan, kini sudah penuh pabrik dan pelabuhan,” tegasnya.

Letak Pesisir Cilegon di Selat Sunda yang merupakan perairan lintas Internasional antara Samudera Hindia, Laut Jawa dan Selat Malaka ini, secara tidak langsung menjadikan lokasi yang sangat strategis bagi perdagangan dunia industri dan pelabuhan.

Bila menarik sejarahnya lebih kebelakang, Pesisir Utara Banten ini tercatat silih berganti diperebutkan antara Belanda-Portugis di awal Abad 16 dan Belanda-Inggris diawal Abad 19 ini, pasca kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1962, rezim Bung Karno pun sampai harus membuat kebijakan “Bedol Desa” ketika awal merintis dunia Industri di Cilegon dengan mendirikan pabrik bernama ‘Trikora’ yang kemudian pada rezim Pak Harto tahun 1970 namanya diganti ‘Krakatau Steel’.

Dan sejak itu, pabrik-pabrik raksasa, pelabuhan-pelabuhan dan perhotelan terus bermunculan diatas pesisir Cilegon hingga sekarang. Dan kabarnya Pemkot Cilegon pun rencananya akan turut andil secara langsung dalam hal itu dengan membangun Pelabuhan Warnasari dalam waktu dekat ini.

Pelaku sejarah yang juga aktif di kontrol sosial Kota Cilegon ini pun mengungkapkan kekesalannya akibat dampak dan konsekuensi keberlangsungan industri yang dirasakan lebih menyulitkan dari sebelum adanya ini, serta menghimbau kepada semua pihak akan persolan ini untuk segera mencari solusi atas persoalan yang dianggapnya “maju tapi mundur” ini.

“Pembangunan di pesisir Cilegon Barat hampir semua industri dan pelabuhan, tegal sawah, tambak, kuburan sampe kampung mbok buyute (Nenek Moyang) masyarakat diukur dengan uang, mending kalau industrinya punya sendiri, punya orang jauh-jauh (kebanyakan orang jauh), pribuminya mah jadi jongos buruh, banyak kerja outshorsing pisan…
Ketika ada banjir bencana atau industri pailit tutup, yang biasa dapat uang bulanan rutin dari industri, ape nanti bisa survive…?! Tolong dipahami, aktifitas ‘maju tapi mundur’. Harus ini, harus ada solusi segera!”.

Benar kiranya apa yang dulu pernah diungkapkan Guru Bangsa, Emha Ainun Nadjib ini;

“Kalau kita jadi negara (kota) industri tidak berarti bahwa segalanya akan beres, tak berarti kita akan terbebas dari kemiskinan, kebodohan atau kekejaman kekuasaan. Industri hanyalah sebuah cara di antara kemungkinan cara-cara lain yang dianggap bisa membantu menyejahterakan masyarakat”. (*)

Wartawan Fakta Banten

Gerindra kuswandi