Pertumbuhan Ekonomi Banten diatas Rata-rata Nasional

“Kami akan kombinasikan peran Bank Banten sebagai profit center, apalagi kemarin Banten Global Development (BGD) telah melakukan RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa), dan telah memutuskan dalam RUPS itu yakni bersedia untuk melepas Bank Banten dari BGD. Kemudian nanti langsung menjadi BUMD (Badan Usaha Milik Daerah),” kata Agus.
Menurut Agus, pelepasan Bank Banten dari PT BGD merupakan awal yang bagus dari RUPSLB tersebut dan diharapkan ditindaklanjuti berupa Perda (peraturan daerah) yang mengaturnya.
“Kami berusaha bagaimana menjadikan Bank Banten sebagai agent of development dimana diantaranya adalah kami sebagai profit center, kemudian mengkombinasi layanan untuk bisa memastikan program-program inklusi keuangan, bagaimana masyarakat Banten membutuhkan layanan keuangan bisa kita berikan,” ujarnya.
Agus mengatakan, pihaknya terus memberikan literasi keuangan dan yang paling penting di era sekarang adalah melakukan transformasi layanan berbasis digital.
“Saat ini kami sedang mempersiapkan diri, karena proses dari upaya kami menjadikan Bank Banten memiliki kontribusi berarti bagi pendapatan asli daerah (PAD) di Banten,” katanya.
Menurut Agus ada empat strategi yang akan dilakukan yakni memperkuat kapasitas dari sisi knowledge skill atau experience dari karyawan.
Selanjutnya, kata Agus, pengembangan dari sisi Information Technology (IT) development dan fokus mengembangkan target market.
Target market di Banten ini, kata Agus, bagaimana potensi yang ada di Banten bisa dikemas dalam sebuah ekosistem keuangan daerah yang nantinya menjadi kekuatan yang bisa memberikan kontribusi bagus bagi peningkatan pendapatan.
Yang keempat kata Agus, upaya memperkuat permodalan dan likuiditas.
“Kami berharap kabupaten/kota di Provinsi Banten ini, bisa segera masuk ke Bank Banten, RKUD (Rekening Kas Umum Daerah) bisa mengikuti,” katanya.
Agus menjelaskan, dalam rangka memperkuat permodalan, pada bulan Oktober 2021 ini, Bank Banten akan melakukan rights issue.
“Sehingga kebutuhan untuk melakukan ekspansi dan upaya memperkuat struktur Bank Banten bisa terus berjalan dengan baik,” ujarnya.
Agus mengungkapkan, hal utama yang dilakukan Bank Banten adalah fase pertama foundation building, dan fase yang akan dikembangkan pada tahun 2022 adalah fase acceleration.

“Bagaimana nanti kita akan tingkatkan percepatan akselerasi untuk ekspansi bisnisnya dan kemudian fase berikutnya untk 2023 yaitu sustainable growth. Karena pertumbuhan kami, betul-betul stabil dan harapan kami di 2024 nantinya Bank Banten siap menjadi market leader,” katanya.
Agus menyatakan keunikan atau kekhasan Bank Banten bila dibandingkan dengan bank pembangunan daerah (BPD) lainnya di seluruh Indonesia yakni dari sisi perusahaannya sudah go public.
“Artinya, dari 27 BPD yang ada di seluruh Indonesia, baru 3 yang go public yaitu Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (BJBR) dan Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk (BJTM) dan Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (BEKS),” imbuhnya.
Agus menjelaskan, Bank Banten baru berusia 5 tahun, bila dibandingkan dengan BJBR dan BJTM, yang usianya di atas 50 tahun.
“Kesempatan Bank Banten melakukan turn around untuk bisa terus tumbuh dengan baik adalah saat ini,” jelasnya.
Pertumbuhan ekonomi di Banten tidak lepas dari peran lembaga lain. Seperti halnya yang dilakukan Pegadaian yang mengalokasikan khusus dana pinjaman modal tanpa bunga sebanyak Rp7 triliun, untuk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di wilayah Provinsi Banten.
Hal itu dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN). Terlebih, UMKM merupakan jantung ekonomi di Indonesia.
Pemimpin Wilayah Kantor wilayah IX Jakarta Pegadaian, Hakim Setiawan mengatakan, bantuan modal itu dikhususkan untuk UMKM besik. Ditambah, modal selalu menjadi salah satu masalah dalam pengembangan usaha.
“Rp7 triliun untuk UMKM di Provinsi Banten. Kami mendukung pemulihan ekonomi nasional. Kita punya program bebas bunga, diperuntukan UMKM yang besik,” katanya.
Ia menerangkan, sejauh ini ada 294.000 nasabah aktif. Pihaknya juga memastikan kapasitas pinjaman tanpa bunga yang cukup, agar UMKM dapat bersaing.
“294.000 nasabah aktif, di level bawah sangat kuat. Ini sudah banyak dimanfaatkan sehingga mengangkat UMKM agar lebih baik,” terangnya.
Untuk pembayarannya, lanjut dia, dapat disesuaikan dengan kemampuan. Misalkan petani, mereka dapat membayar pinjaman tanpa bunga setelah melakukan panen.
“Ada sifatnya bayar bulanan. Petani padi boleh 6 bulan tanpa membayar bunga. Ketika panen bisa melakukan pelunasan, jadi bisa disesuaikan dengan keadaan,” pungkasnya. (***)


