Wisata Anyer

Pedagang Gorengan di Lebak Dukung Mahasiswa Soroti Kenaikan Pertamax: Dampaknya Sampai ke Kampung

LEBAK– Gelombang protes mahasiswa terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax mendapat dukungan dari kalangan pelaku usaha kecil di Kabupaten Lebak.

Salah satunya datang dari Amin, pedagang gorengan di Kecamatan Warunggunung, yang mengaku merasakan langsung dampak kenaikan harga BBM terhadap biaya usaha sehari-hari.

Menurut Amin, anggapan bahwa kenaikan harga Pertamax hanya berdampak pada masyarakat menengah ke atas tidak sepenuhnya sesuai dengan kondisi di lapangan, khususnya di wilayah pedesaan yang jauh dari Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

“Kalau di kota mungkin mudah mendapatkan BBM langsung dari SPBU. Tapi di kampung yang jauh dari SPBU, masyarakat sering membeli BBM eceran di warung kelontong. Yang banyak tersedia biasanya Pertamax, sehingga mau tidak mau kami harus membeli dengan harga yang lebih tinggi,” ujar Amin kepada Fakta Banten, Jumat (19/6/2026).

Ia menjelaskan, harga Pertamax eceran di sejumlah warung kelontong bisa mencapai sekitar Rp18 ribu per liter.

Kondisi tersebut membuat biaya operasional dan distribusi barang ikut meningkat.

Amin menilai suara mahasiswa yang menyuarakan dampak kenaikan BBM patut didengar karena efeknya dirasakan hingga ke lapisan masyarakat bawah dan pelaku usaha mikro.

“Menurut saya mahasiswa menyampaikan aspirasi yang dirasakan masyarakat. Karena kenyataannya kenaikan BBM bukan hanya soal kendaraan, tetapi juga berpengaruh terhadap harga kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Dampak tersebut, lanjut Amin, terlihat dari naiknya harga sejumlah bahan baku yang digunakan untuk membuat gorengan.

Harga tepung terigu yang sebelumnya sekitar Rp7.000 per kilogram kini mencapai Rp9.000 per kilogram. Tepung aci juga mengalami kenaikan dari Rp9.000 menjadi Rp14.000 per kilogram.

Selain itu, harga minyak goreng merek Minyakita di tingkat warung sembako disebut telah mencapai sekitar Rp22.000 per liter.

Kenaikan berbagai kebutuhan tersebut membuat pedagang kecil harus mengeluarkan modal yang lebih besar dibanding sebelumnya.

Akibat biaya produksi yang terus meningkat, Amin terpaksa menyesuaikan harga jual gorengan. Jika sebelumnya satu buah gorengan dijual Rp1.000, kini menjadi Rp1.250 per buah.

“Kami tidak punya banyak pilihan. Kalau harga tetap, modal tidak kembali. Tapi kalau harga dinaikkan, kami juga khawatir pembeli berkurang. Ini yang dirasakan pedagang kecil sekarang,” ungkapnya.

Meski demikian, Amin berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan BBM agar usaha kecil tetap dapat bertahan. Ia juga berharap aspirasi yang disampaikan mahasiswa dapat menjadi perhatian berbagai pihak karena dampaknya dirasakan hingga pelosok desa.

“Banyak orang menganggap Pertamax hanya digunakan kalangan tertentu. Padahal bagi masyarakat kampung yang jauh dari SPBU, kondisi di lapangan tidak selalu seperti itu. Dampaknya tetap kami rasakan,” tutupnya. (*/Sahrul).

DPRD Banten Tahun Baru Islam
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien