Semesta Mathla’ul Anwar

Oleh : Ahmad Syafa’at, Ketua DPW HIMMA Provinsi Banten

Sore hari pulang ke rumah
Langsung tidur capek sekali
Cari ilmu tak hanya di sekolah
Tapi juga di kehidupan sehari-hari
(Pantun Jenaka Rakyat biasa)

Sebait pantun jenaka ini memberikan makna tersirat kepada kita semua bahwa ilmu tidak hanya dapat di sekolah, segala aktivitas dan kejadian menjadi proses mendapatkan pengetahuan. Allah ciptakan telinga untuk mendengar, ciptakan mata untuk melihat, ciptakan hati untuk merasa mana yang baik dan kurang baik. Jika itu teroptimalkan seluruh sekolah kehidupan pasti kita rasakan dengan nyaman dan penuh kesadaran.

Melihat peristiwa atau kejadian terselip beberapa pelajaran. Jika setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru. Lantas dimana dan darimanakah ilmu mengalir? bila air mengalir dari dataran tinggi ke dataran rendah itu sudah kodratnya. Ada keterangan berbunyi “Al-Ilmu Nurrun” ilmu adalah cahaya.

Dari kecil hingga dewasa saya tidak bisa lepas dari nama Mathla’ul Anwar, dimulai dari Madrasah Tsanawiah, Madrasah Aliyah, sampai perguruan tinggi saya berproses di lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar. Diajarkan banyak hal termasuk soal teologis dan keberagaman maka Mathla’ul Anwar mengajarkan untuk bersikap tasamuh.

Kampung Cikaliung, Desa Sindang Hayu, Saketi, Pandeglang menjadi tempat yang bersejarah untuk warga Mathla’ul Anwar, karena dahulu menjadi tempat tinggal ulama kharismatik yang bernama KH Mas Abdurahman Bin Jamal.

Di tengah-tengah problem umat pada waktu itu kehadiran ulama besar ini memberikan cahaya dalam menata kehidupan di masyarakat sehingga kampung ini menjadi munculnya cahaya peradaban khususnya di Banten. Dimulai dari pengajian-pengajian akhirnya masyarakat memiliki kesadaran betapa pentingnya ilmu pengetahuan melalui pendidikan dalam meningkatkan sumber daya manusia yang mumpuni dan berkualitas.

Perguruan Mathla’ul Anwar Cikaliung Pandeglang sebagai potret bagian dari sejarah lahirnya ormas Islam Mathla’ul Anwar yang berdiri sejak 1916. Kondisi masyarakat di Banten pada waktu itu dalam keadaan yang memperhatinkan, kebodohan, kemiskinan dan keterbelakangan menjadi warna dari kehidupan masyarakat.

Ada dua perguruan Mathla’ul Anwar yang langsung dibawah naungan Pengurus Besar Mathla’ul Anwar yaitu Perguruan Mathla’ul Anwar Pusat Menes dan Perguruan Mathla’ul Anwar Cikaliung. Kedua Perguruan ini menjadi pusat pengembangan ormas Mathla’ul Anwar dalam skala nasional dan internasional.

Di tengah arus modernisasi saat ini, komplek perguruan Mathla’ul Anwar Cikaliung memiliki pendidikan yang paling lengkap mulai dari Pendidikan Usia Dini (PAUD), Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiah, Madrasah Aliyah, SMK sampai Perguruan Tinggi. Hal ini memberikan sumbangsih besar dalam dunia pendidikan dan kemajuan daerah di lingkungan tersebut. Terbukti nama KH Mas Abdurahman terabadikan menjadi nama jalan di daerah tersebut.

Menurut penulis bumi Cikaliung adalah laksana kota Madinahnya di Pandeglang. Segala aspek kultural kehidupan bagian yang tak terpisahkan. Secerca cahaya itu muncul dari lorong-lorong perkampungan, tetaplah menyinari.

Madrasah Berbasis Ekonomi Kerakyatan

Suasana diperkampungan selalu mengajarkan kesederhanaan, keteduhan dan ketenangan. Ada orang yang berpanas-panasan hanya sekedar untuk menikmati keteduhan, atau ada juga yang menikmati panas dan teduh dengan ketenangan. Orang tua menitipkan anaknya ke dalam salah satu lembaga pendidikan faktor utamanya adalah kepercayaan. Jika sudah percaya segala aspek pendukung pasti diberikan.

Dulu, di sekolah saya masih melihat tulisan kantin/warung kejujuran yang memperlihatkan aneka ragam jajanan tanpa ada penjaganya. Itu menandakan ternyata sekolah tidak hanya tempat menimba ilmu pengetahuan, ada yang lebih penting dari itu, penanaman moral dan etika serta mengasah nalar sensitifitas sosial. Salah satunya membangun ekonomi kerakyatan yang mengokohkan kemandirian harus tetap dijaga.

Dalam hal ini bukan berarti mengkomersialisasi pendidikan, apalagi ada industrialisasi pendidikan. Setiap pribadi yang mengenyam pendidikan tentunya berharap akan kebermanfaatan. Atas nama perjuangan, pengorbanan, pengabdian seseorang melakukan apa dan untuk siapa? bukan atas nama pribadi atau golongan.

Ada pertanyaan muncul dalam benak penulis, kenapa banyak sekali madrasah atau lembaga pendidikan Mathla’ul Anwar yang lahir di perkampungan? apakah madrasah itu dibangun di atas swadaya masyarakat? jika kita kupas secara mendalam hampir semuanya dibangun dari swadaya masyarakat berbasis ‘gotong royong’ dan kearifan lokal. Artinya hal ini memberikan bukti bahwa Mathla’ul Anwar dari, untuk dan kembali kepada umat.

Mathla’ul Anwar Mengabdi Untuk Negeri

Dari kampung ke kampung, dari majelis ke majelis, dari madrasah ke madrasah, para pejuang Mathla’ul Anwar dahulu menapaki jejak pengabdian. Kembali ke akar tentunya Mathla’ul Anwar telah membangun peradaban.

Gerakan Mathla’ul Anwar berkiprah di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan membangun berbagai ragam amal usaha yang benar-benar dapat menyentuh ‘hajat’ orang banyak seperti madrasah, sekolah, sampai perguruan tinggi.

Semua amal usaha Mathla’ul Anwar seperti itu tidak lain merupakan suatu manifestasi dakwah islamiyah. Semua amal usaha diadakan dengan niat dan tujuan tunggal, yaitu untuk dijadikan sarana dan wahana dakwah Islamiyah.

Satu abad adalah perjalanan panjang. Kini, Mathla’ul Anwar telah melewatinya. Penandanya ialah dari muktamar ke muktamar berlalu. Muktamar dan Milad Mathla’ul Anwar abad kedua 105 Tahun merupakan perhelatan akbar yang krusial, karena ia menjadi cermin tentang perlunya “gerakan tajdid” sebagai identitas dakwah Mathla’ul Anwar untuk direvitalisasi. Revitalisasi gerakan dakwah sangat mendesak agar organisasi Islam ini tidak berkubang dalam kontinuitas tanpa perubahan.

Tujuannya ialah agar Mathla’ul Anwar keluar dari cangkangnya, yakni kejumudan dakwah yang terperangkap dalam rutinitas amal usaha minus kreativitas dan inovasi, baik dalam aspek pemikiran maupun praksis.

Abad kedua merupakan batu ujian bagi Mathla’ul Anwar. Apakah Mathla’ul Anwar mampu membangkitkan kembali elan vital sebagai gerakan dakwah pembaruan, atau justru makin memfosil dan lapuk dimakan ganasnya pergulatan ideologi dan pemikiran.

Refleksi atas perjalanan sejarah selama seabad Mathla’ul Anwar perlu disambut dengan penuh harap. Karena itu, tulisan ini bermaksud meneropong pergeseran-pergeseran paradigma dalam gerakan dakwah Mathla’ul Anwar sejak awal berdiri hingga era masa kini. Tulisan ini juga berupaya mengajukan percikan pemikiran alternatif untuk mendayung kembali gerakan tajdid sesuai dengan semangat zamannya (zeigeist).

Hari ini Mathla’ul Anwar di usia 105 M/108 Hijriah. Kesadaran akan keikhlasan dalam berkhidmat di Mathla’ul Anwar tidak sebatas menyandang jabatan struktural.

Selamat ber-Mathla’ul Anwar dengan riang gembira, optimisme mengukir peradaban 105 Tahun Mengabdi; Arah Baru Mathla’ul Anwar untuk umat dan bangsa. (***)

Demokrat
Royal Juli