Cuma Desa Sukarena yang Tak Dapat Bantuan Kementan, Warga Pertanyakan Sistem Verifikasi

Lazisku

SERANG – Warga Desa Sukarena, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, mempertanyakan soal data verifikasi bantuan program Bedah Kemiskinan Rakyat Sejahtera (Bekerja) tahun 2019. Pasalnya, di 11 desa yang ada di kecamatan Ciomas, hanya desa Sukarena yang tidak mendapatkan bantuan.

Bantuan yang berupa 50 ekor ayam per Kepala Keluarga dan uang Rp. 500.000,- untuk pembuatan kandang ini terpaksa tidak diterima oleh masyarakat desa Sukarena. Lantaran, desa Sukarena tidak terverifikasi data kependudukanya oleh Kementrian Pertanian (Kementan) Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan beserta Balai Veteriner Subang.

Sebelumnya, Kementan dan Balai Veteriner Subang memberikan bimbingan teknis (bimtek) terkait program Bekerja kepada sejumlah Rumah Tangga Miskin Pertanian (RTMP) pada hari Rabu, (3/7/2019).

DPRD Pandeglang Kurban

Tami Mumtami, salah satu warga desa Sukarena mempertanyakan soal mekanisme Balai Veteriner Subang dalam memverifikasi Program Bekerja dari Kementan.

“Saya selaku warga desa Sukarena ingin mempertanyakan secara jelas dan terinci bagaimana mekanisme dari Veteriner Subang dan pihak terkait yang memverifikasi program Bekerja Kementerian Pertanian dan Kehutanan, yang kebetulan memberikan bantuan di wilayah kecamatan Ciomas,” paparnya.

Lebih lanjut Tami menjelaskan bahwa dirinya mempertanyakan pihak Balai Veteriner Subang yang tidak sama sekali melibatkan desa Sekarena.

Kpu

“Yang pertama yang menjadi pertanyaan saya, dari mana pihak dari pada Veteriner Subang mendapatkan data sampai tidak melibatkan salah satu desa di wilayah Ciomas, yang kedua, serapan data yang diambil ini berdasarkan data yang paling update apa memang ini data yang fiktif,” tanyanya.

Berdasarkan pengakuan Tami ke faktabanten, bahwa Dinas Sosial (Dinsos) kabupaten Serang, selalu update untuk mengunggah data setiap tahunnya kepada Kementerian Sosial (Kemensos). Yang justru bertentangan dengan verifikasi data yang diserap oleh Veteriner Subang.

“Karena berdasarkan pernyataan dari Dinsos kabupaten Serang, yang selalu update mengunggah data setiap tahunnya kepada Kemensos ini malah bertentangan secara jauh. Faktanya kemarin ketika diadakan audensi di Aula kecamatan Ciomas, yang pertama membuat masyarakat merasa tidak diakui selaku masyarakat Ciomas ini adalah adanya statement bahwa masyarakat di desa Sukarena sama sekali tidak ada peluang untuk mendapatkan bantuan dari kementerian,” jelasnya.

Yang kedua lanjut Tami, pertanyaan tentang bagaimana cara verifikasi data yang diserap oleh Veteriner Subang dan pihak terkait ini sama sekali tidak ada kejelasan, artinya hanya mengacu kepada statement yang menyudutkan pihak Kemensos, padahal dihadiri secara langsung oleh pihak dinsos yang mewakili Kemensos bahkan data itu tidak diakui sepenuhnya oleh pihak Kemensos, kemudian mengenai tentang akurasi apa yang bisa dipertanggungjawabkan oleh pihak kementrian maupun pihak pelaksana terkait, apabila data-data di lapangan yang ditemukan di wilayah kecamatan Ciomas merupakan data-data yang memang tidak akurat.

Berdasarkan fakta di lapangan, Tami menuturkan ada beberapa data yang memang Kepala Keluarga masuk dalam penerima bantuan, yang justru Kepala Keluarga yang sudah tidak ada atau masuk dalam kategori sudah meninggal.

“10 desa ini data di bawah tahun 2010 karena data yang sekarang yang update Kecamatan Ciomas sudah 11 desa, saat ini sudah ada pemekaran satu desa dan itupun yang pemekaran ini adalah desa Panyaungan Jaya artinya desa-desa sebelumnya ini sudah seyogyanya menerima setiap bantuan yang direkomendasikan dari Kementerian apabila memang prosedur daripada program bekerja ini benar-benar bersinergi dengan pihak Kemensos, kabupaten dan pihak dari lingkungan Kecamatan Ciomas,” tandasnya. (*/Qih)

DPRD Banten Kurban
WP-Backgrounds Lite by InoPlugs Web Design and Juwelier Schönmann 1010 Wien