Kpu

Festival Budaya Tanara Canangkan Menjadi Pusat Wisata Kitab Kuning

 

SERANG – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang bekerjasama dengan Universitas Gajah Mada (UGM) menggelar festival silat kaserangan dan tari ringkang jawari, di Taman Batu Qur’an, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Kamis (3/8/2023).

Dalam pantauan di lokasi, acara tersebut mengangkat tema “Festival Budaya Bangkitkan Wisata Religi Tanara Untuk Desa Maju” dimeriahkan dengan aksi pencak silat kaserangan dan kesenian debus Banten.

Dosen Pembimbing KKN UGM Sudaryatno dalam sambutanya mengatakan, Mahasiswa UGM dibagi menjadi 4 unit sejumlah 114 mahasiswa yang pertama ada di Tanara yang kedua di Tirtayasa, Anyer dan Cinangka.

“Bupati Serang memberikan kepercayaan mempercayakan kepada kami UGM untuk ikut memberikan pembangunan di Kecamatan Tanara dalam rangka merevitalisasi wisata religi Syekh Nawawi Al-Bantani,” ucapnya.

“Harapannya nanti segera akan terwujud adanya Islamic Center dan museum yang diperuntukkan untuk masyarakat Serang Banten umumnya masyarakat Indonesia untuk mengenang jasa-jasa Syekh Nawawi al-Bantani,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah mengatakan saat ini Pemkab Serang sedang merancang daerah Tanara menjadi kawasan wisata Religi Syekh Nawawi al-Bantani.

Advertorial

Advertorial

“Acara hari ini yaitu festival seni budaya silat kaserangan dan ringkang jawari ini merupakan bagian dari program Pemda serang bersama UGM,” ucap Tatu.

“Pemda serang sedang merancang menginginkan di Tanara ini menjadi pusat kajian kitab kuning atau wilayah wisata religinya syekh Nawawi al-Bantani,” imbuhnya.

Diakuinya, perlu adanya kesadaran masyarakat untuk dapat mengembangkan wisata religi di Tanara.

“Karena untuk menyiapkan masyarakat ini yang paling sulit, kalau pembangunan fisik kita ada anggaran, bangun, jadi, tapi wisata religi itu harus didukung oleh masyarakat dari sisi SDMnya, kemudian UGM disini hadir membantu dalam penyiapan SDM di Tanara dan sekitarnya,” imbuhnya.

“Misalnya perilaku masyarakat tentang kebersihan, kemudian UGM masuk memberikan pengelolaan sampah menjadi pupuk organik, kemudian UMKM kulinernya harus disiapkan, UGM sudah mulai membina karena disini ada pengrajin telor asin, dalam waktu 24 jam telor asin sudah jadi, dalam 24 jam sudah bisa membuat telor asin yang sudah bisa dipasarkan,” imbuhnya.

Pihaknya menargetkan supaya wisata religi Syekh Nawawi di Tanara tidak hanya wisatawan lokal, tapi juga dari mancanegara.

“Targetnya kita ingin bukan hanya menjadi tempat wisatawan lokal, kita ingin wisatawan mancanegara bisa kesini karena kita akan menyiapkan pembelajaran kitab kuning, karena kita tau kitab kuning Syekh Nawawi tidak hanya menjadi rujukan pondok pesantren di Indonesia tapi di luar negeri,” pungkasnya. (*/Fachrul)